Harga Grosir di AS Turun di bulan Februari pada Bensin dan Makanan

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Harga grosir di AS jatuh pada bulan Februari, tertahan oleh biaya bahan bakar yang lebih rendah yang telah membuat inflasi masih mendekam di bawah target Federal Reserve.

Penurunan 0,2 persen dalam indeks harga produsen sesuai dengan perkiraan median ekonom yang disurvei oleh Bloomberg dan mengikuti kenaikan 0,1 persen bulan sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja menunjukkan hari Selasa di Washington. Biaya sedikit berubah selama 12 bulan terakhir setelah jatuh 0,2 persen pada tahun yang berakhir pada Januari.

Harga energi yang rendah dan dolar yang lebih kuat menunjukkan tekanan harga grosir akan tetap teredam. Pejabat bank sentral, yang pernah mengatakan bahwa mereka memperkirakan inflasi akan ke arah target mereka, bertemu pekan ini untuk mempertimbangkan kapan akan menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut setelah menaikannya pada bulan Desember untuk pertama kalinya sejak 2006.

“Harga BBM masih menekan indeks,” Gus Faucher, ekonom di PNC Financial Services Group Inc di Pittsburgh, sebelum laporan tersebut. “Tekanan harga di tingkat grosir cukup stabil sekarang.”

Laporan lain pada hari Selasa menunjukkan penjualan ritel jatuh pada bulan Februari untuk kedua kali setelah sebelumnya gain pada bulan Januari dilaporkan terevisi turun, mempertanyakan narasi bahwa keuntungan yang lebih besar dalam belanja konsumen akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada awal 2016.

Pembelian turun 0,1 persen bulan lalu setelah jatuh 0,4 persen pada Januari, menurut data dari Departemen Perdagangan. Pembacaan Januari sebelumnya dilaporkan dengan keuntungan 0,2 persen.

Hasil survei

Proyeksi untuk harga produsen dalam survei Bloomberg dari 65 ekonom berkisar dari penurunan 0,4 persen sampai kenaikan 0,2 persen.

Harga energi turun 3,4 persen, dengan bensin jatuh 15,1 persen, menurut laporan Departemen Tenaga Kerja. Biaya makanan melemah 0,3 persen, termasuk penurunan 19 persen dalam sayuran yang merupakan penurunan terbesar sejak April 2011.

Tidak termasuk makanan dan energi, harga grosir sedikit berubah setelah sebelumnya 0,4 persen. Biaya-biaya tersebut naik 1,2 persen dari Februari 2015.

Juga mengeliminasi jasa perdagangan, biaya produsen naik 0,1 persen pada bulan Februari, dan naik 0,9 persen selama tahun lalu. Beberapa ekonom lebih memilih membaca ini karena hal ini menghapus komponen yang paling volatile dalam PPI.

Indeks harga produsen merupakan salah satu dari tiga laporan inflasi bulanan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja, dua biaya lainnya yakni impor dan harga konsumen. Data pada 11 Maret menunjukkan harga impor jatuh pada bulan Februari, dengan biaya produk makanan asing bergabung bersama penurunan dalam bahan bakar.

CPI, yang akan dirilis pada hari Rabu, mungkin mengalami penurunan pada bulan Februari, menurut survei median Bloomberg.

Sumber: Bloomberg