Harga Emas Stabil Terpicu Penguatan Dolar

emas-dan-faktanya-19-02-2016-15-52-12PT RIFAN FINANCINDO – Harga emas stabil usai Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat. Emas sempat mencapai posisi tertingginya dalam satu bulan karena gejolak politik di Amerika Serikat yang memberi sentimen jelang pertemuan moneter Federal Reserve pada pekan ini.

Melansir laman Reuters, Selasa (25/7/2017), harga emas di pasar spot mendatar di posisi US$ 1.254,45 per ounce, usai menyentuh US$ 1.258,79 per ounce, posisi tertinggi sejak 23 Juni. Adapun emas berjangka AS menetap turun 60 sen, atau 0,05 persen ke posisi US$ 1.254,30 per ounce.

Penyelidikan dugaan campur tangan dan kolusi Rusia pada Pemilu AS di 2016, dipandang sebagai hambatan untuk rencana Pemerintah AS untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Adapun nilai tukar Dolar AS naik dari level terendah dalam lebih dari satu tahun, seiring kenaikan imbal hasil treasury AS. Investor bersiap untuk kemungkinan petunjuk dari The Fed perihal kenaikan suku bunga berikutnya.

“Dolar dan keputusan suku bunga AS akan menjadi penggerak utama minggu ini,” ujar Analis SP Angel Sergey Raevskiy seraya menambahkan pasar juga akan bereaksi terhadap gejolak politik AS.

Mata uang AS yang lebih tinggi membuat emas dalam denominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

The Fed akan menggelar pertemuan selama dua hari yang berakhir pada Rabu melalui sebuah pernyataan. “Kami sekarang berharap hanya ada satu kali kenaikan suku bunga tahun ini di Desember. Ini akan memberi latar belakang yang lebih positif untuk harga emas, yang baru-baru ini telah kembali terbalik karena Dolar AS, ” menurut Capital Economics dalam catatan kuartal ketiganya. Lembaga ini pun merevisi prediksi harga emas di posisi US$ 1.150 per ounce di akhir 2017. Sementara harga perak naik 0,02 persen menjadi US$ 16,47 per ounce, setelah sempat naik ke posisi tertinggi US$ 16,59, sejak 3 Juli.

 Harga Platinum turun 0,3 persen menjadi US$ 930,40, setelah naik ke level tertinggi US$ 940,40 sejak 15 Juni, dan paladium naik 0,7 persen menjadi US$ 850,75. ( liputan6.com )

Selama Puluhan Tahun, Dunia Ada di Dalam Hegemoni Ekonomi AS

Ekonom Standard Chartered Aldian Taloputra mengatakan, dunia telah berada dalam hegemoni ekonomi Amerika Serikat (AS) selama beberapa dekade. Namun hal ini telah berubah selama beberapa tahun belakangan.

Kekuatan lain, disebutkan Aldian, seperti Rusia dan China mulai muncul. Pada saat yang bersamaan, AS mencoba mengulur kekuasaannya dan semakin tidak mampu untuk memainkan peran sebagai satu-satunya pemimpin dunia.

Sejalan dengan pergeseran dari hegemoni ekonomi AS ke sistem dunia yang multi-kutub, risiko dan tekanan pun akan meningkat. Saat ini terdapat persepsi yang kuat di Asia, Timur Tengah dan Eropa bahwa menjaga hubungan yang erat dengan AS sebagai pasar tradisional mereka masih penting, namun tidak cukup sampai di situ saja.

“Untuk dapat menjaga kepentingan mereka, negara-negara di wilayah ini harus membangun relasi dengan kekuatan lain seperti China dan menjadi lebih mandiri, terutama saat dalam posisi harus bertahan,” ujarnya di Jakarta, Senin (24/7/2017).

Aldian menyampaikan, saat negara-negara berkekuatan super ini memantapkan posisi mereka dan membangun titik keseimbangan global baru, negara-negara lain harus bekerja sama secara lebih erat dengan negara-negara tetangga mereka agar tetap relevan.

Jika tidak, mereka akan dihadapkan dengan risiko untuk ditekan dan menjadi korban saat melawan para raksasa ini. Namun, implikasi berbeda terlihat pada Eropa dan Timur Tengah, di mana bank melihat kerja sama regional akan menunjukkan hasil yang berbeda.

Sementara, Aldian menambahkan, perdagangan global menjadi salah satu hal yang menonjol dalam agenda geopolitik. Meski terdapat retorika anti perdagangan bebas, bank menilai perang perdagangan hampir tidak mungkin terjadi.

“Rantai pasokan global dan WTO akan menyulitkan kondisi tersebut terjadi. Jika pun terjadi, perang perdagangan akan membawa kerugian besar terhadap AS,” pungkasnya.

( sindonews.com )