Harga Emas Merosot Imbas Aksi Jual

emas-dan-faktanya-19-02-2016-15-52-12PT RIFAN FINANCINDO – Harga emas merosot untuk pertama kali dalam empat sesi didorong bursa saham yang menguat. Investor juga mengurangi aset di investasi safe haven.

“Harga emas kembali kembali ke level US$ 1.260 pada akhir pekan lalu. Akan tetapi aksi jual menekan harga emas hingga ke level terendah sejak pertengahan Mei,” ujar Craig Erlam, Analis Senior Oanda, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Selasa (27/6/2017).

Ia menambahkan, bila harga emas sentuh di bawah US$ 1.240 per ounce maka dapat mendorong harga emas ke level US$ 1.220.

Pada awal pekan ini, harga emas untuk pengiriman Agustus turun US$ 10 atau 0,8 persen ke level US$ 1.246,40 per ounce. Pada perdagangan elektronik, harga emas sempat ditransaksikan di US$ 1.242 per ounce dari kisaran US$ 1.255 per ounce. Kemudian harga emas sentuh level terendah US$ 1.236. Harga perak berada di kisaran US$ 16.631 per ounce.

“Ada aksi jual mencapai 56 metrik ton. Ini menjadi misteri siapa yang jual dan mengapa,” Ross Norman, Chief Executive Sharps Pixley Ltd.

Selain itu, harga emas juga dipengaruhi sejumlah pasar masih libur di Asia untuk peringati libur Hari Raya Idul Fitri.

“Permintaan dari Asia belum besar. Sejumlah pasar di Asia tutup untuk peringati libur Lebaran. Bila pasar Asia buka maka harga emas tidak terlalu jatuh dalam,” jelas Chintan Karnani, Chief Market Insignia Consultans.

Selain itu, indeks dolar Amerika Serikat juga naik 0,1 persen seiring data pesanan AS menunjukkan penurunan terbesar pada Mei dalam enam bulan. Sedangkan dolar AS cenderung menguat terhadap mata uang lainnya. Penguatan dolar AS didorong permintaan meningkat terhadap dolar AS.

( liputan6.com )

Produksi Minyak AS Naik, Harga Minyak Mentah Tetap Menguat

 

Harga minyak dunia tercatat mengalami kenaikan pada awal pekan ini. Menariknya, harga minyak ini naik seiring dengan kenaikan produksi minyak Amerika Serikat (AS) yang selama ini menjadi tekanan bagi harga minyak dunia.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik 29 sen atau 0,6% menjadi USD45,83 per barel. Hanya saja, selama 1 semester ini harga minyak dunia tercatat turun hampir 20%.

Sementara itu, harga minyak mentah AS naik 37 sen atau 0,8%. Harga minyak mentah AS kini menyentuh USD 43,38 per barel.

“Pasar sedang mengambil nafas di sini sebelum kita melakukan langkah selanjutnya, yang menurut saya akan lebih rendah,” kata Hedge Fund Again Capital John Kilduff, seperti dilansir laman Reuters, Selasa (27/6/2017).

Seperti diketahui, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya telah berusaha mengurangi jumlah produksi minyak mentah global dengan penurunan produksi. Negara-negara OPEC dan 11 eksportir lainnya sepakat pada bulan Mei lalu untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak sebesar 1,8 juta barel per hari.

Hanya saja, produksi minyak serpih AS naik sekira 10% sejak tahun lalu dengan jumlah rig minyak AS tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Hal inilah yang selama ini menekan harga minyak dunia.

“Produksi bisa melonjak menjadi 10 (juta barel per hari), mungkin 10,5 juta barel per hari pada akhir tahun,” kata Manajer Riset Pasar Tradition Energy di Stamford, Connecticut, Gene McGillian.

Sementara itu, Analis Bank of America-Merrill Lynch dalam laporannya menyebutkan permintaan terhadap minyak dunia tidak akan tumbuh tinggi untuk menyerap kelebihan produksi minyak. Hal ini pun dapat menjadi potensi penurunan harga minyak dunia.

“Melihat ke paruh kedua tahun 2017, kita sekarang meragukan bahwa pertumbuhan permintaan akan meningkat,” tulis laporan tersebut. ( okezone.com )