Harga Emas Menguat, Ini Penopangnya

0844437ThinkstockPhotos-471810815780x390RIFAN FINANCINDO – Harga emas menguat pada akhir perdagangan Senin (15/3/2021) waktu setempat (Selasa pagi WIB). Harga logam mulia ini berbalik naik dari penurunan akhir pekan lalu ditopang turunnya imbal hasil (yields) obligasi pemerintah AS dari level tertinggi baru-baru ini. Para investor juga menunggu isyarat dari pertemuan kebijakan Federal Reserve pekan ini.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi COMEX New York Exchange, menguat 9,40 dollar AS atau 0,55 persen ditutup pada 1.729,20 dollar AS per ounce.

Akhir pekan lalu, Jumat (12/3/2021), emas berjangka melemah 2,80 dollar AS menjadi 1.719,80 dollar AS.

“Imbal hasil tenang pagi ini dan penurunan emas baru-baru ini dipandang sebagai peluang pembelian oleh sebagian besar orang,” kata David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures.

“Pertanyaan besarnya adalah apakah kenaikan imbal hasil, didukung optimisme pemulihan ekonomi akan menekan emas, atau jika pertumbuhan terhenti atau inflasi meningkat, yang seharusnya mendukung emas,” tambah Meger.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan berkurang dari tingkat tertinggi dalam lebih dari satu tahun, memulihkan beberapa daya tarik emas yang tidak memberikan suku bunga.

“Kapanpun puncak imbal hasil, itu akan menjadi dasar untuk emas,” kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.

“Mereka (imbal hasil) masih memiliki ruang untuk memperpanjang kenaikan tetapi imbal hasil tidak akan naik selamanya, jadi akan ada titik balik. … Semakin tinggi kita pergi, semakin dekat kita ke titik balik,” lanjut dia.

Emas juga mendapat dukungan dari penandatanganan rancangan undang-undang bantuan senilai 1,9 triliun dollar AS menjadi undang-undang, yang memicu ketakutan inflasi, karena emas digunakan untuk lindung nilai terhadap kenaikan harga-harga.

Para investor menunggu pertemuan dua hari Fed yang dimulai pada Selasa waktu setempat, dengan fokus pada lonjakan imbal hasil obligasi baru-baru ini, kekhawatiran tentang kenaikan inflasi dan prospek ekonomi.

“Logam mulia akan disandera oleh pasar obligasi pemerintah karena pendekatan reaktif Fed terhadap penurunan suku bunga akan terus menyebabkan arus keluar investasi,” kata TD Securities dalam sebuah catatan.

 

Sumber : kompas