Harga Emas Dunia Terkoreksi

harga-emasRIFAN FINANCINDO – Setelah pada pekan lalu harga emas mengalami kenaikan, pagi ini harga emas dibuka melemah. Tampaknya para investor masih tergoda untuk mengambil aksi ambil untung (profit taking) dengan memanfaatkan momentum ketegangan AS-Iran pekan lalu, tapi harga emas masih punya potensi naik.

Harga emas di pasar spot pagi ini dibuka melemah 0,27% ke US$ 1.512,7/ troy ounce. Emas cenderung menguat 1,3% (point-to point) pada minggu lalu dari hari Senin-Jumat.

Sejak awal tahun emas memang sudah menguat US$ 238,4/ troy ounce berdasarkan perdagangan contract for difference (CFD). Pada pasar spot emas telah naik hingga 17,9% sejak awal tahun.

Sejak awal 2019, kenaikan emas memang sangat dipengaruhi oleh isu global seperti adanya perlambatan ekonomi, perang dagang AS-China hingga adanya ancaman resesi global. Otomatis hal itu membuat para investor kembali meninjau ulang portofolio mereka dengan mengalihkan ke aset-aset dengan risiko rendah salah satunya adalah emas yang bersifat safe haven.

Kenaikan harga emas yang signifikan sejak awal 2019 telah membuat para investor tergoda untuk mencairkan cuan mereka mengingat tensi perang dagang AS-China sudah mulai mereda. Namun harga emas yang tinggi masih mengindikasikan adanya perilaku was-was dari para investor terkait dengan adanya ancaman resesi global.

Harga emas sempat menyentuh level tertingginya pada 4 September lalu. Harga emas pada waktu itu mencapai US$ 1.552,3/troy ounce pada pasar spot. Namun sejak saat itu harga emas cenderung mengalami tren penurunan.

Minggu lalu harga emas naik menyusul terjadinya ketegangan di Timur Tengah akibat peristiwa peledakan kilang minyak Saudi Aramco oleh drone Iran. Amerika Serikat menuduh Iran adalah dalang dibalik semua peristiwa itu.

Hal tersebut kembali membuat situasi di Timur Tengah memanas terutama antara AS dengan Iran. Peristiwa tersebut telah mengakibatkan produksi minyak Arab Saudi harus berkurang 5,7 juta barel/per hari. Akibatnya harga emas terkerek naik.

Arab Saudi sudah memastikan bahwa dalam beberapa minggu kedepan pasokan minyak akan kembali normal. Ditambah dengan komitmen AS yang juga turut membantu untuk turut menstabilkan harga minyak. Jadi memang harga minyak diprediksi tidak akan terlalu melejit seperti pekan lalu.

Setidaknya hal ini cukup memberikan angin segar bagi negara-negara yang masih bertumpu pada minyak perekonomiannya, salah satunya Indonesia. Tentu kenaikan harga minyak akan menjadi beban bagi neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia sebagai importir minyak.

Namun hal lain yang perlu diwaspadai adalah bahwa AS akan tetap menerapkan sanksi ekonomi untuk Iran. Sanksi ekonomi ini tentunya juga berpotensi besar meningkatkan tensi kedua belah pihak yang dapat berimbas ke perekonomian global.

Ketegangan AS-Iran akibat peristiwa tersebut memang akan sangat berpengaruh terhadap ketidakpastian global. Ketidakpastian global yang meningkat akan menyebabkan investor lagi-lagi akan melirik aset-aset yang berisiko rendah atau safe haven seperti logam mulia emas.

 

Sumber : cnbcindonesia