Harga CPO Terbang di Awal Pekan

arf-sawit-2RIFAN FINANCINDO – Tak ikut harga minyak mentah yang ambles pada perdagangan perdana pekan ini, harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) malahan terbang.

Harga kontrak pengiriman Juli yang aktif ditransaksikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange melesat 4,58% ke RM 4.045/ton pada Senin (3/5/2021). Harga CPO kembali tembus level psikologis RM 4.000/ton.

Padahal pekan ini harga CPO tak diperkirakan bakal naik karena minimnya katalis dan sentimen di pasar. Malahan kenaikan kasus infeksi Covid-19 di India yang semakin tak terbendung menjadi sentimen negatif untuk harga si minyak nabati ini.

Melansir data dari Refinitiv, harga CPO untuk kontrak Juli turun 1,5% sepanjang pekan lalu ke 3.868 ringgit/ton, setelah melesat 5,7% pada pekan sebelumnya.

India banyak mengimpor minyak sawit yang digunakan sebagai minyak goreng. Hanya saja minyak sawit cenderung lebih banyak digunakan di sektor perhotelan dan bukan rumah tangga. Di saat lockdown, hotel dan restoran banyak yang tutup sehingga menjadi ancaman tersendiri bagi impor minyak sawit.

Meski demikian, harga minyak sawit diprediksi tetap kuat hingga paruh pertama tahun ini akibat ketatnya suplai. Ekspor minyak sawit Negeri Jiran terpantau mengalami kenaikan 10,1% di bulan April dibanding bulan sebelumnya menjadi hampir 1,4 juta ton.

Kenaikan harga minyak sawit di tahun 2021 ini diharapkan mampu mendongkrak perekonomian negara produsennya. Salah satunya adalah RI. Bagi Indonesia CPO merupakan salah satu komoditas andalan ekspor yang menarik investasi asing.

Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor pertanian antara 2015 dan Maret 2021 didominasi oleh investasi di perkebunan kelapa sawit menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Investasi asing di sektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan mayoritas datang dari Singapura (53,7%) dan Malaysia (15,8%). Hal tersebut disampakan oleh Jumina Sinaga, kepala sub-direktorat agribisnis di kementerian dalam webinar pada Jumat pekan lalu

“Ini sesuai dengan investasi perkebunan kelapa sawit yang sebagian besar berasal dari kedua negara tersebut,” ujarnya. Realisasi PMA di bidang pertanian selama periode tersebut mencapai US$ 9,5 miliar atau terhitung sekitar 5,2 persen dari total PMA negara.

Sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 173,9 triliun atau mencapai 9,1% dari total PMDN di Indonesia. “Proyek investasi FDI di sektor pertanian sebagian besar berada di Kalimantan dan Sumatera,” kata Sinaga, mengutip Reuters.

Investasi asing diharapkan dapat membawa teknologi pertanian maju ke Indonesia, membantu mempromosikan produk pertanian Indonesia di pasar internasional, dan meningkatkan produktivitas pertanian nasional.

Hanya saja harga minyak sawit mentah yang terlampau tinggi juga harus diwaspadai karena bisa memicu konsumen beralih ke produk substitusi dan pembuatan biodiesel berbahan bakar sawit menjadi kurang ekonomis.

 

Sumber : cnbcindonesia