Harga Batu Bara Longsor 4,7%

kapal-tongkang-batu-bara-cnbc-indonesiatri-susilo-7_169RIFAN FINANCINDO – Setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 2008 di US$ 280/ton, harga batu bara ambles dalam 2 hari terakhir. Koreksi ini terjadi lantaran investor mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking).

Menurut data Refinitiv, pada Kamis kemarin (7/10/2021) harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) anjlok 4,70% dibandingkan hari sebelumnya ke US$ 224,90/ton. Sementara, pada Rabu (6/10), harga batu bara ‘terjun bebas’ 15,71% ke US$ 236/ton.

Kendati ambles dalam dua hari terakhir, dalam sepekan harga batu bara masih naik 3,64%, sebulan melesat 26,10%. Kemudian, sejak akhir 2020 (year-to-date/ytd) harga batu bara ‘meroket’ 175,11%.

Lonjakan batu bara akhir-akhir ini ditopang oleh persediaan yang menipis di tengah permintaan yang meningkat karena pembukaan aktivitas ekonomi. Naiknya harga minyak bumi dan gas alam juga mempengaruhi kinerja batu bara yang akhir-akhir ini mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa.

Kenaikan harga gas alam menjadi faktor utama lonjakan harga batu bara. Saat gas alam semakin mahal, maka insentif untuk berpaling ke sumber energi primer alternatif meningkat. Salah satunya adalah batu bara.

Dalam sepekan terakhir, harga gas alam di Henry Hub (Oklahoma, Amerika Serikat) naik 5,67%. Selama sebulan ke belakang kenaikannya mencapai 26,07% dan secara year-to-date meroket 126,8%.

Di Eropa, biaya pembangkitan listrik dengan gas alam adalah EUR 89,4/MWh pada 5 Oktober 2021. Dengan batu bara, harganya hanya EUR 58,06/MWh. Ini membuat batu bara kembali menjadi primadona, bahkan di Eropa yang menjunjung tinggi isu ramah lingkungan.

“Melihat situasi di Eropa, gas alam sudah tidak lagi bisa bersaing dengan batu bara. Akibatnya, penggunaan batu bara semakin meningkat,” sebut kajian ELS Analysis, konsultan energi yang berbasis di Swedia, seperti dikutip dari Reuters.

Di sisi lain, balik ke China, permintaan energi masih tinggi di tengah kekurangan pasokan.

“Kekurangan pasokan masih akan terjadi untuk beberapa waktu. Butuh waktu untuk meningkatkan produksi dalam negeri di China, yang selama lima tahun terakhir terus berkurang. Saya tidak optimistis. Kekurangan pasokan akan bertahan mungkin sampai akhir tahun, atau bahkan hingga Februari-Maret tahun depan,” sebut seorang trader di Beijing, sebagaimana diwartakan Reuters.

China-Australia Mau Damai?

Di tengah krisis energi yang mendera China yang sampai membuat listrik byar-pet, pemerintah China tidak punya pilihan lain melepas stok batu bara Australia yang mereka miliki untuk mengatasi kelangkaan energi.

“Batu bara Australia yang tertahan di pelabuhan China mulai dikeluarkan pada akhir bulan lalu. Walau beberapa kargo adalah batu bara Australia yang sebelumnya dikirim melalui India,” ungkap salah seorang trader di bagian timur China, dikutip dari Reuters, Jumat ini (8/10/2021).

Kabar dari trader ini mengejutkan lantaran sudah hampir setahun hubungan Australia-China tegang. Penyebabnya adalah dorongan Australia agar China bertanggung jawab atas pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) yang membuat dunia porak-poranda.

Hubungan Canberra-Beijing itu berdampak ke aspek perdagangan. China ogah membeli batu bara dari Australia. Padahal sebelumnya Australia adalah pemasok batu bara terbesar ke Negeri Panda.

Sejak pertengahan tahun lalu, pembelian batu bara Australia oleh China terus berkurang. Bulan lalu, batu bara Australia yang masuk ke China tinggal 156,18 kilo ton, anjlok 97,46% dibandingkan periode yang sama pada 2020 (year-on-year/yoy).

Namun sekarang situasinya berbeda. China dilanda krisis energi karena mahalnya harga gas alam.

Dalam sepekan terakhir, harga gas alam acuan di Henry Hub (Oklahoma, Amerika Serikat) melonjak 14,24%. Selama sebulan terakhir, harga melesat 36,97% dan sejak akhir 2020 (year-to-date/ytd) meroket 146,44%.

Tidak hanya itu, upaya China untuk menggenjot penggunaan energi terbarukan pun belum menuai hasil. Pembangkitan listrik menggunakan tenaga air (hydro-power generations) diperkirakan masih lemah.

Oleh karena itu, China kembali berpaling ke batu bara sebagai sumber energi primer.

Bulan ini, Refinitiv memperkirakan 10,5 juta metrik ton batu bara dibutuhkan untuk menutup kekurangan hydro-power generations. Pada November dan Desember 2021, kebutuhannya diperkirakan masing-masing 4,5 juta metrik ton dan 3,8 juta metrik ton.

Kebutuhan itu tidak bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Lonjakan impor batu bara China tidak bisa dihindari.

Pada September 2021, Refinitiv mencatat impor batu bara China mencapai 21,98 juta ton, melonjak 34,5% yoy

Sumber : cnbcindonesia