Fintech Melantai di Bursa Saham

ilustrasi-fintech-flickrRIFAN FINANCINDO – Aksi perusahaan rintisan di bidang teknologi finansial berbasis pinjaman yang melantai di bursa saham dapat meminimalisir kegiatan pinjaman online ilegal.

Untuk diketahui, platform kredit digital, Kredivo berencana melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) di bursa Amerika Serikat Nasdaq pada 2022 melalui mekanisme merger dengan perusahaan akuisisi bertujuan khusus (Special Purpose Acquisition Company/SPAC).

Rencana IPO bakal dieksekusi setelah induk usaha Kredivo, FinAccel melakukan aksi merger dengan perusahaan investasi global AS, VPC Impact Acquisition Holdings II (VPCB) dengan perkirakan valuasi ekuitas pro-forma mencapai US$2,5 miliar atau setara Rp 35,8 triliun dengan asumsi tidak ada penebusan.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan manfaat IPO dari tekfin bagi konsumen tentunya dapat meminimalisir aksi pinjol ilegal yang masih ramai berkeliaran.

“Karena IPO menjadi milik publik maka layanan seyogyanya menjadi profesional, ada prinsip kehati-hatian. Masyarakat akan lebih percaya untuk ke pemain yang legal,” ujarnya, Selasa (3/8/2021).

Heru menilai saat ini era bakar uang sudah ditinggalkan dan founder serta investor sudah mulai terasa berat untuk menyuntikan dana di keadaan yang tidak menentu saat ini. Alhasil, IPO merupakan jalan menyegarkan imunitas bisnis agar bisa terus maju untuk mengembangkan bisnis dan bersaing dengan kompetitor ke depannya.

Namun, dia mengatakan ketatnya persaingan akan membuat pada saatnya sejumlah pemain yang tidak adaptif atau memiliki inovasi menjadi terseleksi secara alami

“Nanti terlihat yang mana yang bisa terus maju, mana yang harus konsolidasi dan mana yang harus gugur. Apalagi jika tidak ada investasi baru atau IPO tidak sesuai harapan,” ujarnya.

Kepala Center of Innovation and Digital Economy Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda mengatakan IPO mendorong potensi pendanaan yang kuat sehingga bisa menjadi peluang bagi konsumen untuk bisa menambah investasi ataupun peminjaman.

“End-user akan melihat kekuatan modal platform makin kuat sehingga akan percaya dengan kemampuan perusahaan platform tersebut. Selain itu, bertumbuhnya ekosistem akan makin membuat end-user merasakan pengalaman dalam satu aplikasi. Loyalitas end-user biasanya akan terbentuk,” tuturnya.

Lebih lanjut, Huda menjelaskan dengan tujuan penguatan pendanaan dari IPO, maka peta persaingan tekfin juga akan berubah. pemain dengan pendanaan yang besar mempunyai peluang lebih besar untuk menjadi pemenang di industri tekfin nasional.

Menurutnya, dengan pendanaan yang besar pula, perusahaan P2P Lending bisa mengembangkan ekosistemnya lebih komplet dan besar. Salah satunya bisa menggandeng atau memunculkan tekfin berbasis teknologi kekayaan (wealthtech).

“Menurut saya ragam layanan bisa masuk ke dalam ekosistem tekfin, termasuk fintech P2P Lending. Makin banyak yang IPO, maka persaingan untuk membesarkan ekosistem akan makin tinggi. Hal tersebut bagus bagi iklim usaha tekfin yang berdaya saing dengan persaingan yang sehat tentunya,” katanya.

 

Sumber : bisnis