Fed Tahan Suku Bunga Dekati Nol

1543465876RIFAN FINANCINDO – Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (the Fed) pada Rabu (28/4/2021) mempertahankan kebijakan moneter yang longgar, meskipun ekonomi mengalami percepatan. Seperti yang diharapkan, bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga jangka pendek mendekati nol dan tetap membeli obligasi sebanyak US$ 120 miliar setiap bulan. Kebijakan ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi makin kuat.

Meskipun ekonomi dan inflasi meningkat, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dengan suara bulat memutuskan tidak melakukan perubahan kebijakan dalam waktu dekat.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pemulihan belum merata dan masih jauh dari kata selesai. Namun dia mengakui inflasi dapat meningkat dalam beberapa bulan mendatang. “Kenaikan harga yang hanya terjadi satu kali ini cenderung memiliki efek sementara pada inflasi,” kata dia.

Powell menambahkan saat ini belum saatnya membicarakan pengurangan akomodasi kebijakan, termasuk pembelian aset. “Ini akan memakan waktu sebelum kami melihat kemajuan substansial lebih lanjut,” katanya.

Meskipun nada dovish, bursa saham AS turun selama konferensi pers Powell membahas topik stabilitas keuangan.

Pernyataan komite mencatat bahwa upaya untuk memerangi pandemi Covid-19 telah membantu meningkatkan ekonomi, meskipun masih banyak yang harus dilakukan. “Di tengah kemajuan vaksinasi dan dukungan kebijakan kuat, indikator kegiatan ekonomi dan lapangan kerja telah menguat,” kata komite tersebut.

Komite Fed mengatakan, sektor yang paling terpengaruh akibat pandemi masih melemah, tetapi telah menunjukkan perbaikan. “Inflasi telah meningkat. Kondisi keuangan secara keseluruhan tetap akomodatif, sebagian mencerminkan langkah-langkah kebijakan untuk mendukung ekonomi dan aliran kredit ke rumah tangga dan bisnis AS.”

Komite sekali lagi mencatat bahwa kemajuan ekonomi sangat bergantung pada penyelesaian pandemi. Jumlah kasus harian telah turun secara signifikan karena AS telah memvaksinasi hampir 3 juta orang setiap hari.

“Krisis kesehatan masyarakat yang sedang berlangsung terus membebani ekonomi, dan risiko terhadap prospek ekonomi tetap ada,” kata pernyataan itu.

“Dalam pernyataannya, the Fed tidak memberikan petunjuk akan memperlambat pembelian aset, termasuk memikirkan menaikkan suku bunga,” kata Kepala Ekonom AS Capital Economics, Paul Ashworth.

Keputusan Fed diambil sehari sebelum Departemen Perdagangan AS merilis angka produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama 2021 yang menunjukkan kenaikan sebesar 6,5%. Sebagian besar ekonom, termasuk di the Fed, memperkirakan AS akan mengalami tahun terbaik penuhnya setidaknya sejak 1984. Inflasi juga meningkat, dengan harga konsumen bulan Maret naik 2,6% atau kenaikan (year on year/yoy) tercepat sejak Agustus 2018.

 

Sumber : beritasatu