Emas Naik Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS

emas-dan-faktanya-19-02-2016-15-52-12RIFAN FINANCINDO – ┬áHarga emas naik jelang rilis data ekonomi tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Data ekonomi ini diharapkan memberi petunjuk mengenai langkah kebijakan moneter bank sentral AS atau the Federal Reserve ke depan. Selain itu, dolar Amerika Serikat (AS) tertekan.

Harga emas untuk pengiriman Desember bertambah US$ 8,1 atau menguat 0,6 persen ke level US$ 1.322,20 per ounce. Level itu tertinggi sejak 29 September. Sedangkan harga emas untuk kontrak paling aktif sudah menguat empat persen.

“Harga emas sudah berada di atas level US$ 1.300 dari setiap sesi terakhir. Ini menemukan dukungan untuk jangka pendek, dan kenaikan dalam jangka panjang,” ujar Chintan Karnani, Analis di Konsultan Insignia seperti dikutip dari laman Marketwatch, Jumat (1/9/2017).

Ia menambahkan, untuk pertama kalinya bertahun-tahun, para investor juga bertanya apa mereka dapat berinvestasi emas. “Saya belum pernah melihat prospek positif untuk emas dalam dua tahun terakhir,” kata dia.

Karnani menuturkan, perdagangan emas cenderung hati-hati juga kunci membuat harga emas gagal tembus angka US$ 1.340. Ini dapat mendorong harga emas lebih rendah.

“Keuntungan penguatan dolar AS, dan jika ada laporan nonfarm payroll dapat mendorong koreksi tajam,” kata Karnani.

Adapun sepanjang Kamis waktu setempat, data ekonomi Amerika Serikat cenderung positif. Belanja konsumen naik 0,3 persen pada Juli 2017. Klaim pengangguran secara mingguan cenderung rendah sehingga mengisyaratkan laporan pekerjaan solid secara bulanan.

Meski demikian, dolar AS berbalik melemah pada awal perdagangan sehingga menjadi momentum positif untuk harga emas. Indeks dolar AS pun turun 0,2 persen.

Selain itu, ketegangan terjadi usai Korea Utara menembak rudal ke wilayah udara Jepang juga mendorong kenaikan harga emas pada awal pekan.

Spekulasi Permintaan Naik, Harga Minyak Melonjak

Harga minyak menguat seiring sentimen kapasitas kilang. Namun, secara bulanan harga minyak cenderung tertekan.

Harga minyak untuk pengiriman Oktober naik 2,8 persen atau US$ 1,27 menjadi US$ 47,23 per barel di New York Mercantile Exchange. Diikuti harga minyak Brent bertambah US$ 1,52 atau tiga persen menjadi US$ 52,38 di ICE Futures Europe.

Sepanjang Agustus 2017, harga minyak WTI melemah 5,9 persen. Sedangkan harga minyak Brent tergelincir 0,5 persen.

“Harga minyak mentah dapat dorongan dengan asumsi penyuling bersedia membayar minyak mentah di tengah margin penyulingan yang kuat,” ujar Phil Flynn, Analis Price Futures Group seperti dikutip dari laman Marketwatch, Jumat (1/9/2017).

Departemen Energi Amerika Serikat (AS) juga mengumumkan akan mengirim 1 juta barel minyak dari cadangan yang dikirim ke Louisiana. Ini sebagai upaya membantu meningkatkan pasokan bensin. Flynn menilai, hal itu memberi kesan kalau kesulitan menemukan minyak mentah.

Adapun harga minyak bergerak menguat untuk pertama kalinya dalam empat sesi. Harga minyak sempat tertekan akibat kekhawatiran penyulingan minyak AS akan tetap tutup dan permintaan melambat. Ini berpotensi mendorong pasokan AS lebih tinggi sehingga kembali meningkatkan spekulasi terhadap pasokan global yang berlebih.

“Kami melihat rata-rata kapasitas penyulingan minyak tutup selama dua minggu ke depan. Jika impor dan ekspor tetap terpengaruh pada tingkat sekarang, hasilnya mendorong kenaikan persediaan minyak mentah hingga 15 juta barel,” tulis analis Cowen and Company dalam laporannya.

Sementara itu, harga bensin melonjak di atas US$ 2. Kenaikan harga bensin itu belum pernah terlihat sebelumnya. Ini juga diikuti pergerakan harga minyak. Kenaikan harga bensin tersebut juga didorong dari imbas kekhawatiran dampak Badai Harvey yang menganggu aktivitas kilang di sepanjang Gulf Coast.

Sumber : liputan6.com