Emas Menguat Tersengat Dolar AS

emas 3PT RIFAN FINANCINDO – Laporan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve melihat kondisi ekonomi cukup baik sehingga berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan Juni ini. Laporan itu mempengaruhi harga emas.

Harga emas sempat catatkan penguatan US$ 9,7 atau 0,8 persen ke level US$ 1.275,40 per ounce. Harga emas pun akhir ditransaksikan ke level US$ 1.272,90 usai rilis the Federal Reserve.

Harga emas berjangka untuk kontrak paling aktif berada di kisaran US$ 1.268,30 pada 28 April, atau menguat 0,6 persen.

“Investor fokus memperhatikan bursa saham reli sejauh ini, dan kemudian perhatikan agenda the Fed serta berita soal Trump. Namun, indeks saham Dow Jones dan S&P melemah. Sejumlah alasan itu tak mengejutkan kalau harga emas lanjutkan penguatan dalam jangka menengah,” ujar Adam Koos, President Libertas Wealth Management Group, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis (1/6/2017).

Indeks dolar AS pun melemah 0,3 persen pada perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Sepanjang Mei 2017, harga emas melemah 2 persen pada Mei. Pelemahan dolar AS mendukung pergerakan harga emas.

Pelaku pasar pun mencermati data ekonomi Amerika Serikat. Ini sebagai petunjuk rencana the Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Data tenaga kerja untuk gaji pekerja di sektor non pertanian akan rilis pada Jumat pekan ini. Adapun perkiraan the Federal Reserve menaikkan suku bunga pada Juni mencapai 89 persen.

“Pada pekan ini faktor yang mempengaruhi mulai dari data tenaga kerja non sektor pertanian di AS, suku bunga the Federal Reserve, dan pemilihan di Inggris,” ujar Chintan Karnani, Kepala Riset Insignia Consultans.

Ia menuturkan, investor tampaknya mengabaikan risiko geopolitik hingga memang ada kejadian di laut China Selatan dan Korea.

Harga Minyak Turun 3 Persen Imbas Produksi Libya

 Harga minyak merosot tiga persen ke level terendah dalam tiga minggu dipicu kenaikan produksi minyak Libya sehingga mendorong produksi minyak the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

Harga minyak Brent untuk Juli turun US$ 1,53 atau 3 persen ke level US$ 50,31 per barel. Harga itu terendah sejak 10 Mei. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 1,34 atau 2,7 persen ke level US$ 48,32 per barel. Harga minyak itu terendah sejak 12 Mei.

Harga minyak Brent mencatat penurunan tajam dalam lima sesi berturut-turut kendati ada pemangkasan produksi OPEC. Ditambah perkiraan persediaan minyak mentah Amerika Serikat akan turun selama delapan minggu sejak capai rekor pada akhir Maret. US Energy Information Administration (EIA) akan melaporkan data minyak terbaru pada Kamis pekan ini.

Sepanjang Mei, harga minyak Brent turun hampir 3 persen, dan alami kerugian penurunan dalam bulan kelima berturut-turut. Sedangkan WTI turun lebih dari dua persen sepanjang Mei.

Ada pun produksi dari negara OPEC meningkat pada Mei, dan ini kenaikan pertama pada 2017. Pasokan itu didorong dari produksi lebih tinggi oleh Nigeria dan Libya yang merupakan negara anggota OPEC yang dibebaskan dari pemotongan produksi.

“Produksi minyak Libya menjadi tantangan tambahan kepada OPEC mengingat produksi minyak Libya yang meningkat tidak hanya memakan pangsa pasar angoota OPEC lainnya tetapi juga mendorong pelemahan Brent,” tutur Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (1/6/2017).

Produksi minyak Libya telah meningkat menjadi 827 ribu barel. Angka ini di atas produksi dalam tiga tahun ini yang pernah dicapai sekitar 800 ribu.

OPEC dan produsen minyak lainnya bukan anggota OPEC termasuk Rusia telah sepakat memperpanjang penurunan produksi sekitar 1,8 juta barel per hari hingga akhir Maret 2018. ( liputan6.com )