Emas Berakhir di 2-Minggu Terendah

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO – Emas berjangka berakhir di level terendah dalam lebih dari dua minggu pada hari Senin, dengan harga mencatatkan kekalahan keempat dalam lima sesi di belakang AS dolar yang lebih kuat.

Pound Inggris terpukul dari berita bahwa Inggris menuju keluar dari Uni Eropa dan data manufaktur AS yang optimis, membantu untuk mendukung greenback – membebani harga emas, yang diperdagangkan dalam mata uang dolar.

Emas untuk pengiriman Desember turun $ 4,40, atau 0,3%, untuk menetap di $ 1,312.70 per ons. Itu adalah penutupan terendah untuk harga berjangka sejak 16 September, menurut data FactSet.(MarketWatch)

 

Harga Emas Melandai, Pelaku Pasar Tunggu Data Ketenagakerjaan AS

Harga emas melandai di sesi Asia pada hari Senin (03/10) seiring dengan adanya libur panjang di negara Tiongkok yang menurunkan aktivitas regional serta para pelaku pasar kini sedang menantikan rilis data sektor ketenagakerjaan AS di akhir pekan ini. Saat berita ini ditulis, pair XAU/USD diperdagangkan turun di kisaran level harga 1,315 dolar AS.

Sementara itu, pada Comex New York Mercantile Exchange, harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Desember mengalami peningkatan harga sebesar 0.18 persen menjadi 1,319 dolar AS per troy ons. Sedangkan perak futures untuk pengiriman bulan Desember berada di kisaran level harga 19.34 dolar AS per troy ons, meningkat sebesar 0.66 persen dan harga tembaga berjangka untuk pengiriman bulan Desember naik sebesar 0.14 persen diperdagangkan di level harga 2,213 dolar AS per pound.

Pada sesi perdagangan akhir pekan lalu, harga emas terpantau sedikit menguat didorong oleh adanya rilis sejumlah data ekonomi AS seperti pending home sales, GDP, dan initial jobless claims AS yang beragam. Selain itu, harga emas juga meningkat disebabkan oleh munculnya kecemasan sebagian besar investor terkait dengan kondisi finansial Deutsche bank. Para trader mencari aset safe haven seperti logam mulia emas ditengah-tengah naiknya kekhawatiran pada kesehatan industri keuangan di Eropa tersebut.

Investor Menanti Data Dari Sektor Ketenagakerjaan AS

Sebagian besar investor kini menunggu laporan data dari sektor ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan akan dirilis pada pekan ini. Rilis data NFP dan tingkat pengangguran AS dipandang sebagai data yang akan menunjukkan kejelasan kondisi kesehatan pasar ketenagakerjaan AS dan indikasi apakah the Fed akan menaikkan tingkat suku bunganya tahun ini atau tidak.

The Fed sejauh ini belum menaikkan tingkat suku bunganya dan terakhir memutuskan untuk rate hike pada bulan Desember tahun 2015. Padahal, beberapa waktu lalu, the Fed memprediksi akan menaikkan suku bunga AS sebanyak empat kali. Penundaan kenaikan suku bunga oleh The Fed disebabkan oleh adanya fakta bahwa perbaikan perekonomian AS dinilai masih belum efektif untuk pengetatan kebijakan moneter.

Seperti yang sudah diketahui bahwa harga emas sensitif terhadap pergerakan tingkat suku bunga The Fed. Apabila bank sentral AS ini memutuskan untuk menaikkan suku bunganya maka hal tersebut akan membebani harga emas. Di samping itu, kenaikan suku bunga AS juga akan memicu penguatan dolar AS sehingga menyebabkan harga emas menjadi mahal bagi pemegang mata uang asing lainnya. ( http://www.seputarforex.com )

PT RIFAN FINANCINDO