Ekuitas China Anjlok, Terseret Saham Properti

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – Bursa saham China merosot pada Rabu ini, dengan saham properti anjlok tajam karena investor mengambil keuntungan dari enam hari kenaikan.

Saham keuangan juga berada di bawah tekanan setelah regulator dikabarkan meluncurkan cek kesehatan nasional pada industri perbankan, mengimbangi kekuatan dalam sumber daya dan saham material.

Indeks Blue-chip CSI 300 turun 0,4 % ke level 3,243.34 poin, sedangkan Indeks Shanghai Composite lebih rendah 0,2 % ke level 3,018.75 poin. (Reuters)

Ekonomi China saat ini masih belum pulih. Keadaan ini dikhawatirkan akan menjadi hambatan bagi pembangunan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, Kementerian Keuangan tetap meyakini bahwa China akan tetap menjadi leader bagi ekonomi global. Kepala Seksi Analisis Pasar SBSN Kementerian Keuangan Muhammad Reza mengungkapkan, hal ini tidak terlepas dari rotasi ekonomi yang dilakukan oleh China.

“China mereka enggak takut dengan perlambatan, mereka akan tetap kuat. Karena mereka telah mengalihkan ke sektor konsumsi dari sebelumnya bergantung di manufaktur,” jelasnya di Hotel Lumire, Jakarta, Rabu (10/8/2016).

Untuk itu, Indonesia perlu segera memanfaatkan situasi ini. Salah satunya adalah dengan mempercepat pembangunan infrastruktur melalui dana tax amnesty. Dengan begitu, maka kerja sama ekonomi dengan China dapat segera dilakukan pada berbagai sektor pembangunan infrastruktur.

Tax amnesty kan pertama uangnya larinya ke bank. Jadi ya kita harap ini bisa digunakan segera untuk infrastruktur,” tutupnya. (http://economy.okezone.com/)

Saham Jepang Berakhir di Zona Merah

Saham Jepang turun untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir di tengah volume perdagangan ringan sebelum hari libur nasional. Tiremakers dan broker memimpin penurunan sedangkan saham pertanian menguat.

Indeks Topix turun 0,2 % ke level 1,314.83 pada penutupan perdagangan di Tokyo. Penurunan ini mengikuti kenaikan sebesar 2,9 % dalam dua sesi terakhir, keuntungan tersebut merupakan yang terbesar dalam sekitar satu bulan. Indeks Nikkei 225 Stock Average juga melemah 0,2 %. Yen diperdagangkan 0,5 % lebih tinggi berada di level 101,35 per dolar setelah rally 0,6 % pada hari Selasa. Sementara pasar financial Jepang ditutup pada hari Kamis untuk liburan Mountain Day.

Volume perdagangan sebesar 18 % kurang dari 30-hari rata-rata di Indeks Topix, dengan sekitar lima saham yang jatuh untuk setiap empat yang naik. Namun, indeks acuan rebound dari level terendah sebelumnya, naik sebanyak 0,1 % meskipun sebentar sekitar tengah hari. Pembelian dana bank di Jepang yang diperdagangkan di bursa mendorong penurunan besar dalam harga saham di tengah perdagangan tipis, kata Hideyuki Suzuki, manajer umum dengan SBI Securities Co di Tokyo. (Bloomberg)