Ekonom: Kabur dari Indonesia, Pemodal Asing Lebih Memilih China

images (1)RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Kaburnya investor asing dari Bursa Efek Indonesia diperkirakan bakal terjadi dalam waktu yang relatif lama. Salah satu yang menjadi favorit bagi pemodal asing “melarikan” dananya adalah masuk ke China atau menahan dalam bentuk tunai.

Ekonom Kepala Bank Mandiri Destry Damayanti mengungkapkan, dalam kondisi seperti saat ini, pemerintah China all out dalam menjaga perekonomiannya. Hal itu terlihat dari stimulus ekonomi yang cukup gencar digelontorkan.

“Selain itu, China juga menurunkan GWM (giro wajib minimum) perbankan sehingga kebijakan ekonominya lebih longgar. Jadinya ekonomi China terjaga, dan investor lebih confident masuk ke negara itu,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (30/4/2015).

Destri menyebutkan, sebelumnya investor asing masih percaya dengan perekonomian Indonesia meski ada prediksi perekonomian melambat. Para pemodal itu tidak pernah berpikiran bahwa perekonomian Indonesia seperti saat ini.

“Bisa kita lihat sebelumnya, investor asing tetap di Indonesia meski perekonomian kurang bagus. Namun, kondisi yang terjadi saat ini di bawah ekspektasi mereka,” lanjut Destry.

Beberapa indikator melemahnya perekonomian Indonesia antara lain banyak emiten yang mencatatkan EBITDA yang tipis bahkan negatif. Bahkan laba bersih Astra juga melemah karena kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan saat ini.

Selain itu, belanja pemerintah di sektor infrastruktur juga mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Saya kira cukup bagus pemerintah sudah mulai melakukan ground breaking beberapa proyek dalam waktu dekat ini, sehingga bisa menjadi sinyal positif bahwa spending pemerintah sudah mulai berjalan,” lanjut Destry.

Sebelumnya, dalam enam hari terakhir ini, modal asing yang keluar dari pasar modal Indonesia mencapai Rp 6,94 triliun yang terlihat dari posisi net sell investor tersebut. Sementara itu, empat hari terakhir ini, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia anjlok Rp 315 triliun dari Rp 5.479 triliun menjadi Rp 5.164 triliun.

Menanggapi pelemahan itu, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, terus terpuruknya pasar saham disebabkan ekspektasi dari investor terlalu tinggi. Sementara, pada triwulan pertama tahun ini pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih di bawah estimasi.

Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com