ECB Janji Tetap Akomodatif

aa4f0634-d053-4263-b01c-bfbfd36102e4_169RIFAN FINANCINDO – Bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mengumumkan kebijakan moneter Kamis kemarin (22/7), dan berjanji untuk tetap akomodatif di saat meningkatnya risiko perekonomian kembali merosot.

Ekspektasi akan tingginya pertumbuhan ekonomi mulai meredup di semester II-2021, sebab kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) kembali meningkat secara global.

ECB di bawah pimpinan Christine Lagarde, kemarin mempertahankan suku bunga acuan 0%, deposit rate -0,5% dan lending facility 0,25%. Selain itu program pembelian aset atau yang disebut Pandemic Emergency Purchase Program (PEPP) sebesar 1,85 triliun (US$ 2,2 miliar) juga dipertahankan. PEPP tersebut berlaku hingga Maret 2022.

Dalam pernyataannya kemarin, ECB mengatakan suku bunga akan tetap di level saat ini atau lebih rendah lagi sampai inflasi mencapai target 2% dan stabil di level tersebut. Selain itu, ECB juga mengatakan akan membiarkan jika inflasi berada di atas 2% sementara waktu.

Pernyataan tersebut menyiratkan ECB masih membuka ruang untuk kembali menurunkan suku bunga jika diperlukan, guna memacu perekonomian.

ECB memproyeksikan inflasi di akhir tahun ini akan mencapai 1,9%, kemudian menurun menjadi 1,5% di 2022, dan 1,4% di 2023.

Artinya, dengan proyeksi tersebut suku bunga di Eropa masih akan tetap rendah setidaknya hingga tahun 2024.

“Inflasi saat ini sebagian besar didorong oleh kenaikan harga energi, serta low base effect dari anjloknya harga minyak mentah di awal pandemi Covid-19,” kata Lagarde sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (22/7/2021).

Lagarde juga mengatakan perekonomian masih jauh dari kata pulih pasca dihantam pandemi.

“Jalan masih panjang untuk memulihkan perekonomian kembali ke level sebelum pandemi” tambahnya.

Kepala investasi wealth management di HSBC, Xian Chan, mengatakan sikap yang ditunjukkan ECB kali ini “lebih kuat” dari sebelumnya. Hal tersebut dikatakan sangat diperlukan, sebab muncul keraguan ECB akan mampu menstimulasi perekonomian.

“Ini adalah kunci yang dibutuhkan ECB untuk meyakinkan pasar jika mereka mampu menstimulasi perekonomian serta menaikkan inflasi,” kata Chan seperti dilansir CNBC International.

“Pasar melihat inflasi hanya 1,6% cukup signifikan di bawah target 2%. Jadi ECB perlu menunjukkan mereka bisa lebih ‘kuat atau gigih’ saat memberikan panduan kebijakan moneter, dan pada yang dilakukan saat pengumuman kebijakan tidak mengecewakan,” tambahnya.

Menurutnya, sikap ECB tersebut akan menguntungkan bagi pasar saham, sebab suku bunga rendah akan ditahan dalam waktu yang cukup lama.

Seperti diketahui, kebijakan moneter yang longgar baik itu dengan suku bunga rendah maupun program pembelian aset membuat likuiditas di perekonomian bertambah. Likuiditas tersebut akan mengalir ke pasar saham, apalagi dengan ekspektasi perekonomian akan membaik ditopang stimulus moneter tersebut.

Prospek pemulihan ekonomi kemudian diikuti kenaikan inflasi membuat beberapa saham akan menjadi favorit. Saat perekonomian bangkit dan inflasi tinggi maka akan memicu reflation trade.

Melansir Bloomberg, reflation trade pernah terjadi di 2009, dan saham-saham yang diuntungkan adalah yang memiliki kapitalisasi pasar kecil, kemudian saham di sektor siklikal seperti perbankan dan energi.

Emas juga menjadi salah satu aset yang diuntungkan. Tidak hanya ECB, bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan The Fed juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga rendah untuk waktu yang cukup lama.

Dalam pengumuman kebijakan moneter Juni lalu, The Fed memberikan proyeksi terbaru suku bunga akan naik di tahun 2023, bahkan tidak menutup kemungkinan di tahun depan. Lebih cepat dari sebelumnya yang memproyeksikan kenaikan suku bunga di tahun 2024.

Meski demikian, dengan kondisi perekonomian saat ini, mulai muncul keraguan The Fed akan menaikkan suku bunga tahun depan.

“Baik The Fed dan ECB seirama memproyeksikan suku bunga rendah dalam waktu yang lebih lama, dan itu seharusnya berdampak positif bagi emas untuk jangka panjang,” kata Edward Moya, analis pasar dari OANDA sebagaimana dilansir CNBC International.

Pasar finansial Indonesia juga mendapat “rejeki” ketika era suku bunga rendah ditahan dalam waktu yang cukup lama. Sebab, imbal hasil yang diberikan dengan berinvestasi di Indonesia lebih tinggi, bahkan cukup jauh. Surat Berharga Negara (SBN) misalnya, yeild tenor 10 tahun saat ini berada di 6,293%, jauh lebih tinggi ketimbang yield obligasi (Treasury) AS tenor 10 tahun sebesar 1,2816%, atau yield obligasi (bund) Jerman tenor 10 tahun yang minus 0,421%.

 

Sumber : cnbcindonesia