Digitalisasi bagi Industri Manufaktur

2761153731RIFAN FINANCINDO – Industri manufaktur menjadi salah satu sektor usaha yang terkena imbas krisis global akibat pandemi Covid-19. Mau tidak mau, industri ini harus melakukan berbagai cara agar tak terjerumus ke dalam lubang krisis terlalu dalam.

Digitalisasi teknologi merupakan salah satu caranya. Sebab, industri manufaktur memiliki tingkat kompleksitas kegiatan operasional yang cukup tinggi dengan melibatkan interaksi manusia dan mesin, manusia dan manusia, serta mesin dan mesin.

Country Digital Transformation Schneider Electric Indonesia, Fadli Hamsani mengatakan inilah pentingnya kehadiran teknologi pendukung guna menciptakan kolaborasi dan pengelolaan data yang akurat serta cepat untuk pengambilan keputusan tepat di masa krisis.

“Terdapat empat cara bagaimana bertransformasi digital dengan tepat, yakni identifikasi masalah, penilaian dan studi kelayakan, capability building dan kolaborasi dengan partner, serta pilot project dan monitoring,” jelas Fadli dalam Virtual Media Briefing yang digelar Jumat (15/5/2020).

Pertama, industri wajib mengetahui di mana permasalahan yang ditemui dan pain point seperti apa yang dirasakan.

Setelah mengetahui permasalahannya, industri perlu melakukan studi kelayakan apakah benar masalah-masalah tersebut harus kita lakukan antisipasi guna menemukan solusi digital.

“Selanjutnya, kita tidak boleh lupa bagaimana caranya mempersiapkan kompetensi melalui up-skilling maupun re-skilling dengan capability building atau mudahnya bisa berkolaborasi dengan partner yang ada, seperti Schneider Electric,” lanjut Fadli.

Terakhir, perlunya piloting project untuk digitalisasi dengan hal yang mudah sehingga industri bisa secara langsung merasakan benefit seperti apa yang didapatkan setelah dilakukannya digitalisasi pada operasional mereka.

Meningkatkan ketahanan

“Hal yang terpenting adalah bagaimana digitalisasi ini bisa meningkatkan ketahanan industri pada masa krisis,” terangnya.

Pertama, digitalisasi memungkinkan manajemen merencanakan strategi business continuity plan pada percepatan pemulihan operasional dan proteksi terhadap proses serta aset-aset vital.

Kedua, Schneider Electric melihat bahwa digitalisasi dapat mencegah atau minimal mengurangi dampak berkelanjutan terhadap operasional dan bisnis melalui transparansi data yang akurat serta real-time untuk pengambilan keputusan.

Ketiga, digitalisasi memungkinkan remote working dan remote monitoring sehingga dapat merespons keadaan darurat dengan cepat dan tetap serta menjaga produktivitas karyawan.

“Dalam melakukan manajemen jarak jauh (remote management), penting bagi operator pabrik untuk memiliki sistem cybersecurity terbaik agar tak menimbulkan permasalahan lain, seperti kejahatan cyber,” ujar Fadli.

Keempat, digitalisasi juga dapat mengubah kondisi krisis menjadi peluang.

Fadli mengatakan, perusahaan yang memiliki skenario dan prosedur mitigasi terstruktur, akurat, dan real-time dalam kondisi krisis akan memperoleh kepercayaan dan keyakinan penuh dari pelanggan.

“Inilah yang membuat industri dapat terus berbisnis dan karyawan pun bisa tetap fokus bekerja untuk mencapai hasil maksimal,” tambahnya.

Terkait digitalisasi industri manufaktur, Schneider Electric sendiri memiliki solusi bernama EcoStruxure.

Solusi EcoStruxure merupakan arsitektur otomasi industri dan manajemen jarak jauh yang memungkinkan fleksibilitas dan interoperabilitas.

Fungsingnya adalah untuk membantu pelaku industri meningkatkan produktivitas, efisiensi, mendorong pertumbuhan, serta menjaga keberlangsungan bisnis.

Arsitektur open platform dari EcoStruxure juga memungkinkan untuk pengaplikasian sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik dari berbagai sektor, seperti bangunan, pusat data, industri, infrastruktur dan grid.

 

Sumber : kompas