Demo Iran Dongkrak Harga Minyak

minyak 3RIFAN FINANCINDO – Harga minyak dunia mencapai level tertingginya sejak Mei 2015 pada perdagangan Kamis (4/1), waktu Amerika Serikat (AS). Hal itu dipicu oleh kekhawatiran terhadap risiko pada pasokan yang disebabkan oleh aksi protes di Iran dan turunnya persediaan minyak mentah AS seiring meningkatnya aktivitas kilang.

Dilansir dari Reuters, Jumat (5/1), harga minyak mentah berjangka acuan dunia, Brent, naik US$0,23 menjadi US$68,07 per barel, setelah menyentuh level US$68,27 per barel di awal sesi perdagangan.

Kenaikan juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediaries (WTI) sebesar US$0,38 menjadi US$62,01 per barel pasca menyentuh level US$62,21 per barel di awal sesi perdagangan, tertinggi sejak Mei 2015.

Persediaan minyak mentah AS turun lebih besar dari perkiraan, meskipun persediaan minyak distilasi dan bensin bertambah karena meningkatkan aktivitas kilang sebagai bagian dari penyesuaian di akhir tahun.

Cuaca dingin di sebagian wilayah AS diperkirakan akan menjaga tingginya permintaan terhadap minyak mentah.

Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (AS) pada pekan terakhir Desember 2017, persediaan minyak mentah AS turun 7,4 juta barel, melampau perkiraan. Ha itu terjadi seiring meningkatnya aktivitas kilang ke level tertinggi sejak 2005.

“Berkurangnya pasokan (minyak mentah) sejalan dengan apa telah dilhat pada paruh kedua tahun 2017,” ujar MAtt Smith, Direktur Riset Komoditas ClipperData, di Louisville, Kentucky, AS.

Sebagai catatan, stok minyak mentah AS telah merosot lebih dari 78 juta barel sejak pertengahan 2017 menjadi 424,juta, terendah sejak September 2015.

Selain itu, aksi protes anti pemerintah terjadi sejak pekan lalu di Iran, produsen minyak ketiga terbesar Organisasi Negara Pengekspor Minyak Dunia juga menambah premi risiko geopolitik pada harga minyak, meskipun sumber menyatakan bahwa produksi dan ekspor minyak Iran tidak terkena dampak dari aksi tersebut.

“Aksi protest tidak menempatkan produksi minyak mentah pada risiko, dari sudut pandang itu, (aksi protes) hanya faktor geopolitik yang dapat diperdebatkan,” ujar Sarp Ozkan, Analis Drillinginfo.com di Denver.

Terlepas dari lonjakan pada di Mei 2015, harga minyak menyentuh level tertingginya sejak Desember 2014 atau sebulan setelah PEC memutuskan untuk memangkas produksi demi mendongkrak harga.

OPEC, didukung oleh Rusia dan beberapa negara produsen minyak lainnya, mulai memangkas produksi sejak awal tahun lalu untuk menyeimbangkan pasar. Tingkat kepatuhan cukup tinggi, terlihat dari keputusan untuk memperpanjang kesepakatan hingga akhir 2018.

Pemangkasan produksi oleh OPEC telah membantu mengurangi persediaan minyak global, meskipun produksi minyak AS terus naik. Pekan lalu, produksi minyak AS naik menjadi 9,78 juta barel per hari. ( cnnindonesia.com )