Dampak Pandemi Berat bagi Pekerja

sri-mulyani-3_169RIFAN FINANCINDO – Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai tekanan ekonomi akibat pandemi virus corona atau covid-19 terasa lebih berat bagi pekerja perempuan ketimbang pekerja laki-laki. Hal ini tercermin dari banyaknya sektor bisnis yang terdampak di mana perempuan banyak bekerja.

“Dampaknya lebih berat bagi perempuan. Ini menurunkan partisipasi pekerja perempuan,” ungkap Ani, sapaan akrabnya, saat mengisi acara UN Women Asia Pacific & Women Empowerment Principles (WEPs) secara virtual, Rabu (18/11).

Data yang dikantonginya mencatat 40 persen pekerja perempuan di dunia bekerja di sektor bisnis yang paling terdampak pandemi, misalnya restoran, perhotelan, akomodasi, dan asisten rumah tangga. Data lain mencatat 54 persen dari total 75 juta pekerja di bisnis restoran dan akomodasi merupakan perempuan.

Tak hanya di sektor formal, Ani mengungkapkan 60 persen dari total 740 juta pekerja perempuan di sektor informal telah kehilangan pekerjaan sejak awal pandemi.

Sementara, dari sisi jumlah jam kerja, pekerja perempuan kehilangan jam kerja mencapai 50 persen, sedangkan pekerja laki-laki 35 persen di tengah pandemi.

“Mereka adalah pihak yang menderita karena kondisi ini, pekerjaan mereka yang paling terdampak covid-19,” katanya.

Secara total, pandemi membuat pekerja perempuan maupun laki-laki secara rata-rata kehilangan 18,9 persen jam kerja dari 340 juta pekerjaan penuh waktu.

Lebih lanjut, mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu melihat partisipasi pekerja perempuan di Indonesia juga akan tergerus akibat pandemi. Catatannya, partisipasi pekerja perempuan turun dari 55,5 persen menjadi 54,56 persen pada tahun ini.

“Sementara tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki justru meningkat,” imbuhnya.

Ketimpangan Gender

Ani melihat penurunan partisipasi pekerja perempuan selanjutnya akan membuat ketimpangan gender semakin meningkat di Indonesia. Tanpa pandemi pun, ketimpangan gender sudah terjadi.

Hal ini tercermin dari tingkat pendapatan pekerja perempuan yang rata-rata lebih rendah 16 persen dari pekerja laki-laki di dunia. Sementara di Indonesia, upah pekerja perempuan lebih rendah 23 persen dari laki-laki.

“Artinya, perempuan dibayar lebih rendah dari pekerja laki-laki,” tuturnya.

Ia bilang hal ini terjadi salah satunya karena rendahnya jumlah perempuan yang menduduki jabatan tinggi. Di struktur perusahaan misalnya, pekerja perempuan biasanya hanya mengisi 40 persen dari total jabatan manajer.

Bahkan, pekerja perempuan yang tergolong profesional pun sangat minim, hanya sekitar 15 persen. Hal ini memberi gambaran bahwa pekerja perempuan masih minoritas di jabatan-jabatan ini.

 

Sumber : cnnindonesia

Leave a Reply