Daftar Investasi Yang Menguntungkan

fa96aad2-5891-4541-9c88-8235e8e0ae6a_169RIFAN FINANCINDO – Resesi ekonomi bisa saja melanda Indonesia jika laju perekonomian pada kuartal II dan III tahun ini berturut-turut kontraksi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahkan mengaku telah mempersiapkan skenario menghadapi resesi akibat pandemi virus corona.

Selain pemerintah masyarakat juga disarankan waspada dan mengencangkan tali pinggang masing-masing menghadapi kemungkinan lesunya perekonomian. Lantas apa investasi yang menguntungkan di tengah resesi?

Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad menyebut di tengah resesi investasi yang dibidik sebaiknya instrumen bernilai tinggi tapi sedang turun harganya seperti saham dan properti. Dengan begitu Anda bisa mendapatkan imbal hasil (return) yang maksimal.

Penurunan harga di kedua instrumen investasi itu, lanjut Teja, dapat mendatangkan keuntungan berkali-kali lipat dari modal awal. Sebab, saham dan properti bisa dibeli dengan ‘harga resesi’ atau murah meriah. Sementara, jika jual di saat normal, instrumen investasi dihargai senilai harga pantas instrumen investasi tersebut.

“Saham dan properti bagus dilihat dari harganya yang murah banget sekarang, jadi melihat secara positif. Harga jatuh maka ini investasi jelek, enggak begitu. Harganya lagi turun aja, lagi diskon,” katanya.

Namun ingat, untung dari investasi saham mau pun properti di saat ini tidak akan instan. Teja bilang minimal setahun untung investasi baru akan berbuah. Sebab, saham dan properti baru akan dilirik lagi setelah perekonomian dalam keadaan stabil.

Walau menggiurkan, Teja menyebut profil investasi saham dan properti hanya cocok untuk sebagian investor saja yaitu mereka yang agresif dan memiliki pundi uang lumayan tebal.

“Tapi tetap hati-hati, harus pilih saham yang bagus sama properti yang memang sebenarnya barangnya bagus tapi harganya lagi turun saja,” ucapnya.

Investor dapat membidik saham yang memang bernilai tinggi seperti saham-saham bluechip yang saat resesi tengah diobral investor yang pindah ke safe haven atau instrumen keuangan yang lebih aman. Sementara untuk properti, carilah properti di lokasi strategis yang jual banting harga karena faktor keuangan oleh pemiliknya.

Sementara untuk mereka yang mau main aman, Teja menyarankan untuk membeli obligasi ritel negara. Momentum saat ini pas karena pemerintah tengah memasarkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI017 yang dibanderol kupon tetap sebesar 6,4 persen per tahun.

Bunga atau kupon yang diberikan dijamin lebih besar dari rata-rata bunga deposito bank BUMN, pajaknya pun lebih rendah yaitu 15 persen. Dari tingkat keamanannya dinilai Teja tak mengkhawatirkan sebab dijamin oleh pemerintah.

“Obligasi bagus kayak ORI karena dijamin pemerintah. Kalau deposito di bank, kan ada risiko banknya agak goyang,” tambah Teja.

Untuk mereka yang suka mengoleksi emas, Teja menyarankan untuk setop beli karena harganya yang sedang tinggi. Katanya, untuk investasi emas saat ini sebetulnya sudah agak terlambat. Kecuali untuk jangka waktu sampai 5 tahun.

Ia mengatakan harga emas biasanya terbalik dengan harga saham, sehingga jika saham akan murah maka emas bakal naik. Secara prinsip investasi membeli instrumen di harga tinggi tidak disarankan.

Sementara itu, Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Agustina Fitria menyarankan mereka yang tertarik berinvestasi di tengah resesi untuk melakukan diversifikasi portofolio. Artinya, tak semua dana investasi dicemplungkan ke satu kolam investasi.

Itu juga kalau ada dana menganggur di luar dana darurat atau uang tunai sebagai bantalan kebutuhan selama minimal 3 bulan sudah ada di tangan.

Dalam keadaan resesi, Agustina menyarankan untuk memiliki pegangan uang tunai yang cukup sebelum memikirkan investasi. Gejolak ekonomi yang tak menentu bisa jadi menuntut Anda untuk mengeluarkan uang tabungan untuk kebutuhan yang tidak terduga.

Jika memiliki uang lebih, Agustina menyarankan untuk mengenal beberapa instrumen investasi dan mencampur portofolio investasi Anda.

“Kalau resesi, artinya semua lagi lesu nih. Kalau misal punya portofolio, fokusnya masih diversifikasi, enggak disimpan di satu instrumen karena kebutuhannya beda-beda,” pungkasnya.

 

Sumber : cnnindonesia