Cara Amati Puncak Hujan Meteor Orionid

5d1a4313-1f02-4426-ae4a-bb5d4b8a01f9_169RIFAN FINANCINDO – Hari ini menjadi puncak hujan meteor Orionid. Meski terjadi pada siang pukul 13.00 WIB (21/10), masih ada cara untuk menikmatinya di malam hari.

Sehingga, kemungkinan untuk melihat puncak hujan meteor Orionid di Indonesia sangat kecil, karena puncaknya terjadi pada siang hari. Meski demikian, pengamat masih bisa menikmati hujan meteor ini pada malam hari.

Sebab, periode hujan meteor Orionid terjadi sejak tanggal 2 Oktober hingga 7 November 2020. Hujan meteor ini akan terlihat sekitar pukul 22.13 WIB setiap malamnya di atas horizon bagian timur dan akan tetap aktif sampai fajar menyingsing sekitar pukul 05.04 WIB.

Titik paling terangnya akan berada di posisi paling tinggi di langit setelah fajar, sekitar pukul 04.00 WIB dan memberikan pemandangan yang terbaiknya sebelum fajar.

Observatorium Bosscha mengungkap hujan meteor ini dapat diamati tanpa alat bantu dengan ketinggian maksimal 67 derajat di atas horizon. Perkiraannya akan terlihat 13 meteor per jam pada puncak hujan meteor.

Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) mengungkap hujan meteor Orionid dihasilkan dari jejak Komet Halley yang terjadi setiap 76 tahun sekali.

“Komet Halley memang melintas setiap 76 tahun sekali. Saat melintas, komet yg berisikan es dan debu mengalami evaporasi. Serpihan2 kecil dari komet ini tertinggal (seperti jejak) di sepanjang lintasannya. Dapat dibayangkan seperti remah roti yg tertinggal ketika rotinya dimakan sambil jalan,” tuturnya.Peneliti dari LAPAN, Rhorom Priyatikanto mengungkap Komet Halley bisa menghasilkan hujan meteor karena lintasan Bumi saat mengelilingi masuk ke lintasan Komet Halley.

Ketika komet mengelilingi Matahari, mereka meninggalkan jejak berdebu di belakang mereka. Setiap tahun, Bumi melewati jejak puing-puing tersebut yang memungkinkan serpihan-serpihan itu bertabrakan dengan atmosfer Bumi.

Di atmosfer, serpihan-serpihan itu hancur untuk menciptakan garis-garis berapi dan berwarna-warni di langit.

“Nah, ketika Bumi melintas dekat komet, kita bakal memasuki aliran debu serpihan komet tadi. Hasilnya, banyak debu yg masuk ke atmosfer dan terlihat sebagai hujan meteor,” lanjutnya.

Komet Halley adalah komet paling terkenal karena merupakan komet “periodik”. Komet Halley membutuhkan waktu kembali ke bumi setelah mengorbit matahari sekitar 75-76 tahun.

Komet Halley terakhir kali terlihat pada tahun 1986 dan diprediksi dapat terlihat di Bumi pada tahun 2061. Komet itu dinamai setelah astronom Inggris Edmond Halley.

 

Sumber : cnnindonesia