Cadangan Minyak Turun 20% per Tahun

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – Saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dengan kenyataan menipisnya cadangan minyak dan gas dalam beberapa tahun terakhir.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Ke giatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat, produksi minyak mentah Indonesia akan turun rata-rata 20 persen per tahun. Bahkan, dalam 2-5 tahun ke depan hanya akan menyisakan 500.000 barel per hari (bph).

?Hal yang terberat saat ini adalah cadangan migas yang semakin tipis, sementara pencarian sumur baru sangat minim. Kalaupun dilakukan pengeboran, biasanya 90 persen hanya menghasilkan air, dan kandungan mi gasnya 10 persen saja,? ujar Kepala Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usa ha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Taslim Z Yunus pada Sosialisasi Industri Hulu Migas yang digelar Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Kan tor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat, Soekarno-Hatta, Kota Bandung.

Ia menyebutkan, beberapa tahun ke belakang, setiap sumur biasanya mampu memproduksi minyak mentah antara 1,2-1,5 juta barel per hari. Sementara saat ini, minyak Indonesia berada pada rata-rata produksi 830.000-850.000 bph.

?Jumlah itu pun sudah dinilai baik. Kalau dulu kita masih bisa bicara produksi 1,2 juta-1,5 juta bph. Hampir sebagian besar pengeboran menghasilkan minyak. Kalau sekarang sebagian besar pengeboran yang keluar adalah air lebih dari separuh, sekarang 1.000 bph per lapangan sudah bagus,? katanya.

Taslim mengungkapkan, minimnya produksi yang rendah karena sumur-sumur tua yang tidak produktif. Di sisi lain, penemuan sumur baru yang memiliki nilai ekonomis sangat sedikit. Bahkan, kegiatan pengeboran sudah dihentikan karena sumber minyak yang semakin habis. Sebagai upaya lain, saat ini produksi minyak mentah lebih mengandalkan kilang lepas pantai atau offshore.

Berdasarkan data SKK Migas, produksi rata-rata minyak pada Juli 2016 mencapai 834.700 barel per hari (bph), naik 696 bph dibandingkan realisasi 30 Juni 2016, yang produksi rata-ratanya sebesar 834.004 bph. Realisasi produksi siap jual atau lifting minyak pada semester I/2016 mencapai 817.009 bph. Ada perbedaan lebih dari 16 ribu bph antara realisasi lifting dan produksi.

Target lifting minyak dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) perubahan tahun ini sebesar 820.000 bph. Tahun lalu target lifting minyak tidak tercapai. Realisasi lifting hanya sebesar 777.600 bph dari target 825.000 bph.

Sementara itu, kebutuhan mi nyak nasional rata-rata mencapai 1,4 juta bph dan diprediksi akan mencapai 2 juta bph pada 2025. Sementara itu, produksi rata-rata gas bumi per 30 Juli 2016 sebesar 7.962 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), turun tipis dibanding realisasi 30 Juni 2016 yang mencapai 7.985 MMSCFD.

Target dalam APBN Perubahan 2016 sebesar 6.440 MMSCFD. Terdapat empat kontributor utama lifting minyak sepanjang paruh pertama tahun ini, yaitu blok Rokan yang dioperatori PT Chevron Pacific Indonesia, blok Cepu yang dioperatori Exxon Mobil Cepu Ltd, Wilayah Kerja PT Pertamina EP, dan blok Mahakam yang dioperatori Total E&P Indonesie.

Keempatnya menyumbang lebih dari 65 persen lifting minyak nasional Menilik dari sisi investasi, pada semester I-2016 tercatat sebesar USD5,65 miliar atau sekitar Rp76.3 triliun. Investasi untuk eksplorasi sebesar 367 juta dolar AS untuk kegiatan pengembangan 845 juta dolar AS, kegiatan produksi 3,922 miliar dolar AS, dan administrasi senilai 521 juta dolar AS.

Sumber : http://economy.okezone.com