Bursa Tokyo Dibuka Melemah

7b118e36-a018-47e3-bd47-d929fdce6a34_169RIFAN FINANCINDO – Bursa saham Tokyo dibuka melemah pada pembukaan perdagangan Senin ini (30/9/2019) seiring dengan sentimen negatif dari luar negeri terutama bursa Wall Street AS yang ditutup melemah pada akhir pekan lalu.

Pelemahan bursa Tokyo dan Wall Street dipicu karena investor masih menunggu terkait dengan serangkaian peristiwa penting yang akan dirilis pekan ini, termasuk data manufaktur China.

Data perdagangan mencatat, indeks acuan Nikkei 225 turun 0,49% atau 106,74 poin pada 21,772.16 di awal perdagangan, sementara indeks Topix yang bobotnya lebih luas turun 0,72% atau 11,57 poin pada 1.592,68.

Perkembangan perang dagang antara AS-China masih akan dipantau investor. Pihak Gedung Putih sedang mempertimbangkan pembatasan investasi AS di China, termasuk kemungkinan memblokir semua investasi Amerika di perusahaan-perusahaan China.

Negosiator perdagangan utama Beijing, Liu He, juga diperkirakan akan memimpin delegasi negaranya ke AS satu minggu ke depan setelah Libur Hari Nasional China.

Pekan lalu, bursa Wall Street AS jatuh setelah ada laporan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan menyingkirkan perusahaan-perusahaan China dari bursa saham AS. Hal itu meningkatkan kekhawatiran eskalasi perang dagang AS-China lebih lanjut.

Indeks Dow Jones turun menjadi 0,26%, indeks S&P 500 terkoreksi menjadi 0,53%, dan indeks Nasdaq Composite melemah 1,13%. Dari ketiga indeks itu, indeks S&P 500 dan Nasdaq menunjukkan penurunan persentase mingguan terbesar, sejak Agustus.

Kesepakatan dagang AS-China dipandang sebagai kunci yang bisa membawa perekonomian AS menghindari yang namanya hard landing alias perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Pada tahun 2018 International Monetary Fund (IMF) mencatat perekonomian AS tumbuh sebesar 2,857%, menandai laju pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak tahun 2015.

Tahun ini, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS melambat menjadi 2,6%. Untuk tahun 2020, pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan kembali merosot menjadi 1,9% saja.

 

Sumber : cnbcindonesia