Bursa Jepang Menguat Jelang Kebijakan BOJ

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Bursa saham Jepang dibuka naik sebelum keputusan bank sentral terkait apakah akan menambahkan rekor pelonggaran moneter, setelah perusahaan pembuat instrumen presisi dan asuransi memimpin kenaikan dalam indeks Topix.

Indeks Topix naik 0,5% ke level 1,469.11 pada pukul 09:01 pagi di Tokyo. Indeks tersebut meluncur 1,2% pada hari Senin karena penurunan ekuitas China. Indeks Nikkei 225 Stock Average naik 0,6% hari ini ke level 18,074.76, sementara yen melemah 0,1% terhadap mata uang AS ke level 120,36 per dolar, yang membuat gain dalam dua hari terhenti. Investor fokus pada hasil dari pertemuan dua hari Bank of Jepang sebelum mengalihkan perhatian mereka ke Federal Reserve akhir pekan ini. Bank sentral AS memutuskan apakah akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2006 pada hari Kamis mendatang.

Tiga puluh tiga dari 35 ekonom memproyeksikan BOJ akan mempertahankan laju stimulus moneter saat ini, sementara dua lainnya memperkirakan ekspansi. Lebih dari sepertiga ekonom melihat bank sentral akan menambah pelonggaran di akhir bulan depan. Inflasi pada bulan Juli melambat menjadi nol untuk ketiga kalinya dalam tahun ini, meningkatkan tekanan pada Gubernur Haruhiko Kuroda. Dia mengatakan pada bulan Agustus bahwa BOJ bisa memenuhi referensi harga 2% dengan level stimulus saat ini.

Saham-saham China jatuh tajam dalam tiga minggu pada hari Senin, dengan indeks komposit Shanghai melemah 2,7% setelah data akhir pekan lalu menambah kekhawatiran perlambatan ekonomi yang mendalam dan para trader mengukur tingkat dukungan negara bagi ekuitas.

Kontrak E-mini futures pada indeks Standard & Poor 500 menguat 0,1% pada Selasa. Indeks ekuitas yang mendasari turun 0,4% di New York pada hari Senin, dengan saham Yahoo Inc. dan Alibaba Group Holding Ltd. turun setidaknya 3,1%.

Dengan dua hari sampai pada pernyataan The Fed, suku bunga berjangka menempatkan peluang kenaikan minggu ini di angka 28%, turun lebih dari 50% sebelum China mengguncang pasar saham dengan devaluasi mata uang yang mengejutkan.(frk)

Sumber: Bloomberg