Bursa Asia Merosot Jelang Akhir Pekan

Beberapa orang tercermin dalam papan yang menampilkan indeks pasar saham terbesar di Tokyo, Jepang, Jumat, (10/7/2015). Meskipun Nikkei mengalami kenaikan pada Jumat pagi, tetapi tertutupi oleh penurunan tajam di Fast Retailing Co. (REUTERS/Thomas Peter)RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Bursa saham Asia turun pada perdagangan saham Jumat pekan ini seiring pelaku pasar memilih investasi relatif aman. Hal itu seiring pemungutan suara yang dapat mendorong negeri Elizabeth tersebut keluar dari Uni Eropa.

Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2 %. Sementara itu, indeks saham Jepang Nikkei tergelincir 0,4 persen.

Bursa saham Amerika Serikat pun terkoreksi pada perdagangan saham Kamis waktu setempat. Indeks saham S&P 500 turun 0,17 persen ke level 2.115,48.

Imbal hasil obligasi global menyentuh level paling rendah. Surat utang atau obligasi Jerman tenor 10 tahun berada di level terendah 0,024 %. Sedangkan imbal hasil obligasi Inggris bertenor 10 tahun di level 1.224 persen.

Mata uang safe haven pun mencetak untung seiring pelaku pasar memburu alternatif investasi lebih aman. Langkah itu dilakukan seiring Inggris akan melakukan jajak pendapat pada 23 Juni.

“Pasar fokus terhadap potensi Brexit. Ada polling yang menyatakan kemungkinan Inggris akan keluar dari Uni Eropa. Anda pun tidak dapat membeli aset berisiko dengan kondisi seperti ini,” kata Tatsushi Maeno, Direktur PineBridge Investments seperti dikutip dari laman Reuters, Jumat pekan ini.

Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun tergelincir dengan minus 0,140 persen. Surat utang Amerika Serikat (AS) berjangka 10 tahun sentuh level terendah dalam 3,6 bulan menjadi 1,659 persen.

Harapan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada Juli 2016 mempengaruhi laju obligasi. “Investor telah menunggu naiknya suku bunga bank sentral AS, tetapi akhirnya menyerah, dan mulai beli,” ujar Analis Nomura Securities, Tomoaki Shishido.

Sumber : http://bisnis.liputan6.com