Bursa Asia Menghijau Pagi Ini

kantor-pusat-keb-hana-bank-di-seoul-korea-selatan-kamis-23-juli-2020-apahn-young-joon-1_169RIFAN FINANCINDO – Bursa Asia pada pembukaan perdagangan awal pekan ini dibuka bervariasi, mayoritas di zona hijau mengikuti penutupan Bursa Wall Street pada perdagangan Jumat (11/9/2020) yang juga ditutup mayoritas di zona hijau.

Tercatat indeks Nikkei di Jepang dibuka menguat 0,12% , Hang Seng Index di Hong Kong naik 0,29%, Shanghai di China melonjak 0,53%, Indeks STI Singapura terdepresiasi 0,11% dan Kospi Korea Selatan terpantau terbang 0,92%.

Hari ini, Jepang akan merilis data Produksi Industri Juli secara month-on-month (MoM), dimana data perkiraannya berada di angka 8,0%.

Dari Bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat waktu setempat (11/9/2020) dengan mayoritas ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan lalu.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat 131,06 poin 0,48% menjadi 27.665,64. Sedangkan S&P 500 naik tipis 1,78 poin atau 0,05% ke level 3.340,97. Sementara Nasdaq Composite anjlok 0,60% menjadi 10.853,55.

“Pasar terus berjuang menemukan keseimbangan,” kata Mark Hackett, kepala riset investasi di Nationwide, kepada CNBC International. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa volatilitas ini mencerminkan perubahan emosional pasar.

Ke depan Hackett menduga volatilitas tanpa arah ini masih akan berlanjut. Tarik menarik antara tren bullish dan bearish akan sangat bergantung pada injeksi likuiditas yang dilakukan oleh bank sentral The Fed, perbaikan kondisi ekonomi, risiko ketidakpastian yang tinggi serta kenaikan valuasi.

Sejak crash Maret lalu, harga saham-saham AS mulai rebound terutama untuk sektor teknologinya. Kenaikan harga saham ini terbantu oleh injeksi likuiditas besar-besaran the Fed yang disebut dengan quantitative easing.

Saham teknologi konstituen FAANG (Facebook, Apple, Amazon, Netflix & Google) naik gila-gilaan. Saham Amazon bahkan naik lebih dari 70% sepanjang tahun berjalan. Valuasi yang sudah terlalu tinggi membuat analis melihat ada fenomena ‘bubble’ untuk sektor ini.

“Saya pikir kita pasti berada dalam zona bubble,” kata Jonathan Bell, kepala investasi di Stanhope Capital, kepada CNBC International.

Bell mengingatkan, kenaikan harga saham tersebut patut dikhawatirkan bukan karena bisnisnya yang tidak bagus, melainkan karena adanya euforia yang berlebihan.

Selain itu, kabar dari jelang negosiasi antara Uni Eropa dengan Inggris terkait keluarnya Negeri Robinhood itu dari Uni Eropa atau yang biasa disebut British Exit (Brexit).

Uni Eropa pada Kamis mendesak Inggris mencabut rencana pembatalan Kesepakatan Penarikan Brexit dan mengancam memberlakukan langkah hukum, tetapi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bersumpah mendorong UU Pasar Internal meski mengakui langkah itu melanggar hukum internasional.

 

Sumber : cnbcindonesia

Leave a Reply