Bursa Asia Mayoritas Hijau

ilustrasi-ihsg_169RIFAN FINANCINDO – Bursa Asia kompak dibuka di zona hijau pada perdagangan Jumat (26/3/2021), mengikuti bursa saham Amerika Serikat (AS) yang ditutup menguat pada perdagangan Kamis (25/3/2021) waktu setempat.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka melesat 1,2%, Hang Seng Hong Kong menguat 0,52%, Shanghai Composite China naik 0,29%, STI Singapura tumbuh 0,33%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,3%.

Pergerakan bursa Asia cenderung mengikuti bursa saham AS, Wall Street yang ditutup rebound ke zona hijau pada perdagangan Kamis kemarin, setelah beberapa hari sebelumnya ditutup di zona merah.

Beralih ke Negeri Paman Sam (AS), bursa saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat atau dini hari tadi waktu Indonesia, setelah rilis data klaim tunjangan pengangguran terbaru yang hasilnya positif.

Indek Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 0,62% ke level 32.619,48, S&P 500 tumbuh 0,52% ke 3.909,52, dan Nasdaq Composite naik 0,12% ke 12.977,68.

Namun sepertinya penguatan ini hanya rebound teknikal. Maklum, DJIA dan kawan-kawan sudah melemah cukup dalam. Banyak barang murah di pasar uang siap untuk ‘diserok’.

“Mungkin ini menjadi salah satu dari momentum ambil untung. Pelaku pasar juga perlu menyeimbangkan potofolio mereka jelang akhir kuartal I,” kata Jordan Kahn, Chief Investment Officer di ACM Funds yang berbasis di Los Angeles (AS), sepert dikutip dari Reuters.

Dari sisi data ekonomi, ada rilis terbaru yang menambah optimisme di pasar. Pada pekan yang berakhir 20 Maret 2021, jumlah klaim tunjangan pengangguran di Negeri Adikuasa tersebut tercatat 684.000. Turun drastis 97.000 dibandingkan dengan pekan sebelumnya dan menyentuh titik terendah sejak Maret 2020.

Data ini menunjukkan bahwa perlahan tetapi pasti AS mulai pulih dari dampak pagebluk virus corona yang memporak-porandakan seluruh sendi kehidupan. Kini pandemi mulai terkendali karena vaksinasi terus digalakkan sehingga ‘keran’ aktivitas dan mobilitas publik bisa dibuka secara bertahap.

Lapangan kerja pun kembali tercipta, meski masih jauh dari level sebelum pandemi. Janet Yellen, Menteri Keuangan AS, dalam Rapat Kerja dengan Kongres kemarin menyebut masih ada sekitar 9,5 juta orang yang belum kembali bekerja.

“Kondisi sudah membaik dibandingkan tahun lalu, tetapi masih ada jutaan orang yang benar-benar merasakan penderitaan ekonomi. Vaksinasi yang semakin cepat dan luas semoga menjadi awal untuk mengakhiri penderitaan tersebut,” tutur AnnElizabeth Konkel, Ekonom di Indeed Hiring Lab, seperti dikutip dari Reuters.

Presiden AS Joseph ‘Joe’ Biden memang punya target tinggi dalam hal vaksinasi. Saat jumpa pers Gedung Putih, pengganti Donald Trump itu yakin bisa menyuntikkan 200 juta dosis vaksin anti-virus corona dalam 100 hari pertama pemerintahannya.

“Saya percaya kami bisa melakukannya,” tegas Biden, sebagaimana diwartakan Reuters.

Mengutip catatan Our World in Data, jumlah vaksin yang sudah disuntikkan ke lengan rakyat Negeri Adidaya per 24 Maret 2021 adalah 130,47 juta dosis. Biden mulai menghuni Gedung Putih pada 20 Januari 2021 sehingga 100 hari pemerintahannya akan jatuh pada 30 April 2021, ada waktu sebulan lebih sedikit.

Per 24 Maret 2021, rata-rata tujuh harian vaksinasi di AS mencapai hampir 2,5 juta dosis per hari. Jadi, target Biden bisa tercapai jika laju vaksinasi bisa dijaga di level yang sekarang, apalagi kalau bisa ditingkatkan

Lapangan kerja yang semakin terbuka dan cepatnya vaksinasi membuat prospek ekonomi AS sangat cerah. Biden menyatakan mayoritas pihak memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh lebih dari 6% tahun ini. Jika itu terwujud, maka akan menjadi laju tercepat sejak 1980-an.

 

Sumber : cnbcindonesia