Bursa Asia Dalam Tekanan

412f7970-6e60-401e-8c84-ccf71cb94fd5_169RIFAN FINANCINDO – Mayoritas bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Selasa (28/9/2021), di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Senin (27/9/2021) waktu setempat yang menyebabkan indeks S&P 500 dan Nasdaq di AS kembali terkoreksi.

Hanya indeks Hang Seng Hong Kong yang dibuka di zona hijau pada pagi hari ini, di mana indeks saham acuan Hong Kong tersebut dibuka menguat 0,27%.

Sementara sisanya dibuka di zona merah pada pagi hari ini. Indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,26%, Shanghai Composite China turun 0,19%, Straits Times Singapura terkoreksi 0,36%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,2%.

Dari kabar emiten, Saham SK Innovation di Korea Selatan melonjak hampir 2% setelah perusahaan mengumumkan rencana dengan Ford Motor untuk menginvestasikan lebih dari US$ 11 miliar di fasilitas baru AS untuk memproduksi kendaraan listrik dan baterai.

Pasar saham Asia sebagian besar cenderung mengikuti pergerakan dua indeks utama di bursa Wall Street (AS), setelah investor merespons negatif dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) pada perdagangan kemarin.

Indeks S&P 500 melemah 0,28% ke level 4.443,11 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,52% ke 14.969,97. Namun untuk indeks Dow Jones masih mampu bertahan di zona hijau dengan menguat 0,21% ke posisi 34.869,37.

Kenaikan yield Treasury membuat dua indeks utama bursa Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin waktu setempat. Selain itu, perhatian juga kembali tertuju ke kemungkinan terjadinya shutdown atau penghentian layanan pemerintah AS.

Yield Treasury AS bertenor 10 tahun pada kemarin melesat, sempat menyetuh level 1,516%, tertinggi sejak 28 Juni lalu. Di akhir perdagangan, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun yang menjadi acuan ini berada di 1,4906%.

Kenaikan tajam tersebut membuat saham-saham sektor finansial menguat, tetapi yang lainnya mengalami tekanan.

Saham Goldman Sachs dan JPMorgan Chase masing-masing menguat 2%, dan membuat mereka menjadi salah satu yang terbaik di Dow Jones.

Investor juga memantau kemajuan penyelesaian pemasukan AS yang sudah tiris, dan harus diizinkan menaikkan tingkat utang jika tak ingin layanan publik terhenti (shutdown) karena tak ada sumber dana pembayaran gaji mereka.

Ketua DPR AS, Nancy Pelosi pada Minggu (26/9/2021) mengatakan bahwa proposal infrastruktur bipartisan (disponsori kedua partai di AS) senilai US$ 1 triliun bakal disahkan pekan ini. Kongres harus meloloskan anggaran tambahan akhir September untuk menghindari shutdown.

“Washington DC akan mulai menarik lebih banyak perhatian dalam beberapa pekan ke depan, karena perhitungan politik seputar proposal infrastruktur dan debat mengenai batas utang akan cenderung memicu pasar bergerak,” tulis Tavis McCourt, perencana saham Raymond James, seperti dikutip CNBC International.

Sumber : cnbcindonesia