Bursa Asia bergerak hati-hati

unnamedRIFAN FINANCINDO – Saham-saham pada Bursa Asia memulai perdagangan Rabu pagi dengan hati-hati, karena investor menunggu untuk melihat apakah Presiden AS Donald Trump memberikan petunjuk tentang kemajuan tarif dalam pidato kenegaraannya.

Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang datar, dengan China dan beberapa pasar lain di wilayah itu masih ditutup untuk liburan Tahun Baru Imlek. Nikkei Jepang naik tipis 0,3 persen, sementara E-Mini berjangka untuk S&P 500 hampir tidak bergerak.

Dow Jones melaporkan pada Selasa (5/2) bahwa Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin dan Perwakilan Dagang Robert Lighthizer berencana untuk mengadakan pembicaraan di Beijing, China, awal minggu depan, mengutip seorang pejabat senior pemerintah yang tidak diindentifikasi.

Donald Trump diperkirakan akan menantang Demokrat untuk menyetujui pendanaan pembangunan tembok perbatasannya yang sudah lama dicari, tetapi berhenti mengumumkan keadaan darurat nasional, setidaknya untuk saat ini. Pidato kenegaraan akan dimulai pada Selasa (5/2) malam pukul 21.00 waktu setempat atau Rabu pukul 09.00 WIB.

Para investor juga tertarik dengan rincian apa pun mengenai rencana belanja infrastruktur yang sudah lama disebut-sebut, yang belum satu pun jalan atau jembatan yang dibangun.

“Trump kemungkinan akan menggembar-gemborkan kemajuan di bidang perdagangan, meskipun banyak masalah-masalah struktural penting kemungkinan tetap beredar,” kata Kepala Strategi FX Westpac, Richard Franulovich seperti dikutip Reuters.

“Rencana infrastruktur kemungkinan akan dibangkitkan lagi. Kongres yang dipimpin Demokrat kemungkinan akan lebih simpatik, yang akan menjadi positif untuk selera risiko.”

Wall Street telah memperoleh keuntungan dari hasil perusahaan yang kuat dari Eropa dan AS, termasuk blockbuster dari Estee Lauder Cos Inc.

Dow pada Selasa (5/2) berakhir naik 0,68 persen, sementara S&P 500 naik 0,47 persen dan Nasdaq 0,74 persen.

Obligasi-obligasi negara juga melambung, dibantu oleh data yang menunjukkan indeks sektor jasa AS secara mengejutkan lemah, yaitu 56,7, dengan pesanan baru turun ke level terendah satu tahun.

Federal Reserve (Fed) akan menahan suku bunga di mana mereka berada sampai prospek ekonomi AS lebih jelas, Presiden Fed Dallas Robert Kaplan mengatakan pada Selasa (5/2), sebuah proses yang bisa memakan waktu beberapa bulan lagi.

Dolar meningkat sebagian karena mundurnya sterling, yang mencapai posisi terendah dua minggu di 1,2922 dolar, setelah data survei yang buruk dan ketidakpastian tentang pembicaraan Brexit mendorongnya di bawah level pasar utama.

Terhadap sekeranjang mata uang, dolar menguat di 96,064 dan jauh di atas terendah minggu lalu di 95,162. Dolar stabil terhadap yen di 109,94.

Euro merosot menjadi 1,1407 dolar setelah survei menunjukkan pada Selasa (5/2) bahwa bisnis zona euro berkembang pada laju paling lambat sejak pertengahan 2013 pada awal tahun ini.

Dolar Australia adalah peraih keuntungan langka setelah bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA), terdengar kurang dovish” daripada spekulan-spekulan yang bertaruh pada pertemuan kebijakan pertama tahun ini, Selasa (5/2).

Pasar sekarang semua mendengar pidato Gubernur RBA Philip Lowe pada pukul 01.30 GMT.

“Bank dapat mempertahankan mantranya `langkah selanjutnya dalam suku bunga lebih cenderung naik`, meskipun tidak dalam waktu dekat dan mungkin bahkan lebih jauh,” kata Ahli Strategi Valas Senior di National Australia Bank Rodrigo Catril.

“Namun, peningkatan risiko-risiko penurunan baik secara global maupun domestik kemungkinan akan berarti, Gubernur akan kurang percaya dengan pernyataan ini daripada yang terjadi beberapa bulan yang lalu.”

Di pasar komoditas, Wall Street Journal melaporkan Arab Saudi dan sekutu Teluk Persia-nya mengusulkan kemitraan formal dengan kelompok 10 negara yang dipimpin oleh Rusia untuk mencoba mengelola pasar minyak global, sebuah aliansi yang dapat mengubah kartel.

 

Sumber : www.antaranews.com