BPS Rilis Data, Dolar Diprediksi Bergelayut di Rp13.400

BPS Rilis Data, Dolar Diprediksi Bergelayut di Rp13.400RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Transaksi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di awal pekan ini, Senin, 15 Februari 2016, diperkirakan akan berada pada tren depresiasi, jika rilis data ekonomi domestik dari Badan Pusat statistik (BPS) tidak mampu memberikan katalis positif terhadap volatilitas rupiah.

Analis PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, mengatakan pasca mengalami penguatan pada perdagangan sebelumnya, hari ini rupiah diprediksi berbalik melemah terhadap dolar AS.
“Meski kami mengharapkan adanya kenaikan atau permbalikan arah menguat, namun diperkirakan laju rupiah dapat melanjutkan pelemahan, jika tidak ada sentimen positif yang cukup memberikan dorongan penguatan rupiah,” ujarnya.
Terlebih lagi, jika rilis data-data ekonomi pada pekan ini tidak begitu baik. Sehingga, para pelaku pasar disarankan untuk mewaspadai potensi pelemahan lanjutan pada rupiah.
Sehingga pihaknya meramaljan, saat ini batas bawah nilai mata uang garuda berada pada level Rp13.500, sedangkan batas atas berada di level Rp13.400. “Tetap cermati sentimen yang ada terhadap laju rupiah,” ucapnya.
Selain itu, Reza juga mengatakan, pada perdagangan sebelumnya pergerakan dolar AS kembali mengalami penguatan terhadap rupiah, setelah terimbas pelemahan harga minyak mentah dunia.
Tetapi, laju penurunan harga West Texas Intermediate (WTI) mulai berkurang menjelang akhir perdagangan, yakni hanya menurun 1,24 persen ke US$27,11 per barel di bursa komoditas New York.
“Harga minyak WTI sempat menurun hingga US$26,13 per barel pada perdagangan intraday atau di bawah rekor terendah sejak Mei 2003 senilai US$26,19 yang dibukukan pada Januari,” ujar Reza.
Reza menjelaskan, laju dolar AS tampak menguat terhadap euro, dolar Australia, yen, dan SwissFranc, sehingga memberikan imbas negatif pada laju rupiah.
“Sebelumnya kami sampaikan bahwa setelah berhasil mematahkan tren pelemahannya, penguatan rupiah terjadi juga akibat spekulasi dana asing yang akan kembali mengalir ke pasar finansial baik dalam sektor obligasi maupun ekuitas,” tutur Reza. (ren)
Sumber : http://bisnis.news.viva.co.id