Bank Dunia Sebut RI Stagnan 2020

63e82c36-e0ed-49ea-bb03-77bce2ec165e_169RIFAN FINANCINDO – Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) memprediksi ekonomi global akan berkontraksi setidaknya 6% pada tahun ini akibat penutupan ekonomi guna menekan angka wabah Covid-19.

OECD juga memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi global akan “melambat dan tidak pasti”. Untuk Indonesia, lembaga yang beranggotakan sekitar 36 negara memprediksi pertumbuhan ekonomi Tanah Air berpotensi terkontraksi sebesar 2,8% hingga 3,9% tahun ini, dengan kenaikan PDB tahun depan sebesar 5,2%.

Tapi prediksi level itu dengan catatan jika hanya terjadi gelombang pertama Covid-19, sementara pertumbuhan PDB Indonesia bisa tumbuh hanya 2,6% tahun depan jika terjadi gelombang kedua Covid-19.

Pada 2019, PDB Indonesia mencapai 5,0%. Dengan populasi penduduk mencapai 273.350.295, Indonesia masih dianggap menjadi salah satu negara dengan tingkat pengetesan virus corona terendah di dunia.

Indonesia kini memiliki 34.316 kasus terjangkit Covid-19, naik 1.241 kasus per hari. Dengan 1.959 kasus kematian, dan 12.129 pasien berhasil sembuh sejauh ini, mengacu data Gugus Tugas per Rabu siang (10/6/2020). Dengan angka ini, Indonesia menduduki posisi kedua dengan kasus terjangkit terbanyak di wilayah ASEAN setelah Singapura.

Sedangkan secara global, sudah ada 7.339.470 kasus terjangkit, 414.060 kasus kematian, dan 3.618.557 pasien berhasil sembuh, menurut data Worldometers, hingga Rabu pagi (10/6/2020).

Di sisi lain, sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini versi Bank Dunia akan mengalami stagnasi atau 0%, karena dampak dari pandemi virus corona.

Kendati demikian, Bank Dunia meramal, pertumbuhan ekonomi pada 2021 akan berangsur pulih dan bisa tumbuh pada kisaran 4,8%.

Dalam laporannya bertajuk Global Economic Prospects edisi Juni 2020, Bank Dunia atau World Bank mengatakan Covid-19 telah membuat perekonomian tertekan di hampir seluruh negara di dunia, baik dari sisi eksternal atau internal.

Lockdown atau karantina kewilayahan yang diterapkan di banyak negara untuk menekan persebaran virus membuat ekonomi di berbagai belahan dunia terkontraksi.

Indonesia, sebagai negara eksportir komoditas di kawasan Asia Timur dan Pasifik pun mengalami dampak sangat parah di awal tahun karena lockdwn yang diterapkan di banyak negara, yang pada akhirnya membuat harga komoditas merosot cukup dalam.

Menurut Bank Dunia, koreksi juga dialami negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia. Jika dibandingkan dengan negara kawasan Asia Pasifik, pertumbuhan ekonomi Malaysia tahun ini diperkirakan tumbuh negatif 3,1% akan mengalami rebound dan tumbuh hingga 6,9% pada tahun berikutnya.

Untuk Filipina diproyeksi akan mengalami kontraksi sebesar 1,9% dan akan tumbuh 6,2% pada tahun 2021. Sementara perekonomian Thailand diperkirakan akan terkoreksi hingga 5% tahun ini. Sementara tahun depan diperkirakan kembali tumbuh di kisaran 4,1 persen.

Menurut catatan Bank Dunia, ketiga negara tersebutlah yang mengalami kontraksi terparah di antara negara lain di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

“Pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan flat atau datar pada tahun 2020 [0%]. Sementara Vietnam pertumbuhan ekonominya akan melambat menjadi 2,8%,” tulis Bank Dunia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan skenario berat hingga paling buruk akibat pandemi covid-19, yang akan dialami di Indonesia telah disiapkan.

Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mengalami kontraksi hingga 0,4% di akhir tahun. Sementara untuk skenario berat, perekonomian RI hanya akan tumbuh di kisaran 2,3 persen.

“Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi akan turun ke 2,3%, bahkan skenario lebih buruk -0,4%,” ujar Sri Mulyani.

Sumber : cnbcindonesia