Bank Dunia lihat pertumbuhan flat untuk negara-negara berkembang

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan tahun 2014 untuk ekonomi global pada Selasa kemarin, namun mengatakan bahwa rebound di perekonomian Negara-negara akan membantu imbangi stagnasi di Negara-negara berkembang.

Sebagian besar kenaikan pertumbuhan tahun ini akan muncul dari negara-negara berpenghasilan tinggi, terutama Amerika Serikat dan 18 negara dari zona euro, Bank Dunia mengatakan dalam Global Economic Prospect yang biasanya dilaporkan dua kali dalam setahun.

Tapi awalan yang berat untuk tahun ini – seperti cuaca buruk di Amerika Serikat, gejolak pasar keuangan dan krisis Ukraina – menyeret turun pertumbuhan global secara keseluruhan untuk tahun ini.

Perkiraan tahun 2014 diturunkan ke laju 2,8 persen dari perkiraan yang telah diberikan bulan Januari lalu sebesar 3,2 persen. Ekonomi global pada tahun 2013 mengalami pertumbuhan sebesar 2,4 persen.

Negara-negara berpenghasilan tinggi akan mendapat pertumbuhan yang kuat tahun ini sebesar 1,9 persen dari 1,3 persen pada tahun sebelumnya.

Tapi negara-negara berkembang akan dapat tantangan campuran dari percepatan pertumbuhan di negara-negara kaya. Seiring berkembangnya pertumbuhan ekonomi dari Negara-negara berpenghasilan tinggi, permintaan untuk impor seharusnya akan tumbuh sehingga meningkatkan ekspor dari Negara-negara berkembang.

Tapi negara-negara berkembang akan kesulitan untuk menghasilkan kapasitas produksinya guna memenuhi permintaan tersebut karena kebanyakan dari mereka sudah sepenuhnya pulih dari krisis keuangan tahun 2008, kata Bank Dunia yang berbasis di Washington.

Negara-negara berkembang diproyeksikan tumbuh 4,8 persen tahun ini, jauh di bawah perkiraan 5,3 persen pada Januari lalu.

“Prospek untuk negara-negara berkembang adalah pertumbuhan yang datar pada tahun 2014. Ini menandai tahun ketiga berturut-turut pertumbuhan substantive dibawah lima persen dan mencerminkan lingkungan ekonomi global yang lebih menantang pasca-krisis,” katanya.

Prospek terbaru dari Bank Dunia ini menandai penurunan dari laporan Januari, ketika telah menaikkan prediksi pertumbuhan, dengan mengatakan bahwa baik negara-negara kaya maupun Negara-negara berkembang “akhirnya tumbuh” setelah krisis keuangan global.

Banyak dari perlambatan tahun ini menunjukkan pelemahan pada ekonomi China, ekonomi terbesar kedua di dunia.

Pertumbuhan produk domestik bruto China di kuartal pertama hanya 5,8 persen untuk tingkat tahunan, dengan perlambatan tajam dalam output industri dan Beijing mengambil langkah untuk memperketat kredit.

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi China sebesar 7,6 persen untuk tahun ini, lebih rendah dari tingkat pertumbuhan 7,7 persen pada tahun 2013. Beijing sendiri menargetkan pertumbuhan untuk tahun ini sebesar 7,5 persen.

Pertumbuhan GDP yang sedikit meningkat pada kuartal pertama terdapat di India, Meksiko dan Filipina. Namun laju pertumbuhan melambat akan terjadi di Indonesia, Mongolia, Malaysia dan Brazil dan pertumbuhan negatif di Afrika Selatan dan Peru.

Kontraksi tajam tahunan antara 8 dan 12 persen terjadi di Ukraina, Thailand dan Maroko.

Pelemahan ekonomi di negara berkembang cerminan dari beberapa faktor, termasuk efek dari musim dingin yang parah di Amerika Serikat; ketegangan politik di Thailand, Ukraina dan Turki; pergolakan buruh di Afrika Selatan; dan pengetatan kebijakan moneter menyusul gejolak pasar keuangan tahun lalu. (brc)

Sumber: AFP