Bagaimana Penyembuhan Gangguan Parosmia

5fdf7c48c4b56RIFAN FINANCINDO – Parosmia dilaporkan dialami oleh sejumlah pasien yang telah pulih atau sembuh dari Covid-19. Gejala gangguan pada indera penciuman ini, menurut Dr.dr.Retno S Wardani, SpTHTKL(K) di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), adalah gangguan penyakit yang sudah ada sebelum masa pandemi virus corona.

Kendati penyakit ini tidak cukup populer, namun gangguan parosmia sebagian besar masih diremehkan penderitanya.

“Karena kebanyakan dari pasien baru datang ke dokter untuk memeriksakannya (parosmia) setelah berminggu-minggu, 6 bulan kemudian, bahkan bertahun-tahun,” kata dr Dani kepada Kompas.com, Senin (4/1/2021).

Belakangan, parosmia banyak dikeluhkan pasien Covid-19 setelah dinyatakan negatif atau sembuh dari penyakit yang diakibatkan infeksi virus SARS-CoV-2.

Padahal, sebelum ada Covid-10, kata dr Dani, penyakit ini umumnya disebabkan infeksi rhinovirus, yang mana infeksi virusnya juga menyerang saluran pernapasan bagian atas.

Apa beda parosmia dengan anosmia?

Dr Dani menjelaskan anosmia adalah gejala kehilangan indera penciuman atau penghidung yang membuat penderitanya tidak bisa mengenali bau atau aroma.

Sedangkan parosmia adalah kondisi di mana penderitanya mengalami distorsi atau halusinasi bau, yang umumnya mereka mencium bau darah, bau amis atau aroma tidak sedap lainnya.

“Tapi ada juga pasien saya, justru mencium bau atau aroma harum saat di kamar mandi, jadi sebaliknya. Kasus ini jarang terjadi. Kebanyakan bau yang dikenali diasosiasikan dengan bau busuk atau bau darah,” jelas dokter dari Divisi Rinologi, Departemen THT-KL, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) ini.

Pada kasus pasien Covid-19, parosmia yang dialami umumnya pasien merasakan bau lain, seperti sesuatu yang terbakar, bau sesuatu yang amis atau bau darah.

Pengobatan gangguan parosmia

Dr Dani menjelaskan gangguan penciuman biasanya disebabkan oleh gangguan pada saraf penciuman nomor 1. Namun, bukan berarti gangguan tersebut tidak dapat pulih atau tidak bisa disembuhkan.

Saraf tersebut, kata dr Dani adalah satu-satunya persarafan dalam otak manusia yang bisa mengalami regenerasi.

“Kalau toh, hilang penciuman, baik itu anosmia, hiposmia, maupun parosmia, akibat infeksi virus corona tetap bisa kembali (sembuh),” kata dr Dani.

Proses regenerasi saraf penciuman tersebut, berdasarkan penelitian yang ada, berlangsung antara 1-13 tahun. Namun, tentu tidak ada orang yang ingin mengalami gangguan ini dalam waktu yang lama.

Dr Dani mengingatkan agar masyarakat tidak menyepelekan gejala parosmia atau gangguan lain pada indera penciuman.

“Sebab, indera penciuman adalah fungsi luhur dari manusia yang sangat berhubungan dengan emosi,” ungkap dr Dani.

Bagaimana terapi penyembuhan untuk obati parosmia?

Lebih lanjut dr Dani menjelaskan bahwa parosmia dapat disembuhkan dengan olfactory training, yakni dengan melatih saraf-saraf olfaktori atau saraf penciuman.

“Terapinya dengan memberikan empat jenis aroma kepada penderita parosmia. Empat aroma itu lemon, rose (mawar), cengkeh dan eucaliptus (kayu putih),” papar dr Dani.

Nantinya, pasien akan diminta untuk menghirup masing-masing aroma.

Tahap parosmia treatment atau latihan penciuman ini dilakukan dengan mengambil nafas panjang dengan menghirup salah satu aroma selama 20 detik.

Selanjutnya, 20 detik dengan napas biasa dan dengan dihirup dengan cepat untuk masing-masing aroma tersebut.

“Ini tahapan terapi saraf penciuman untuk mengembalikan lagi kemampuan fungsi penciumannya,” jelas dr Dani.

Umumnya, terapi ini dilakukan selama 1,5 bulan dan selain latihan tersebut, juga diberikan pengobatan atau trace element zinc.

“Dengan terapi ini akan cepat membantu regenerasi saraf penciuman, sehingga tidak perlu lama untuk pulih dari gangguan parosmia, baik yang diakibatkan oleh virus Covid-19 maupun virus lainnya,” imbuh dr Dani.

 

Sumber : kompas