Asumsi Harga Minyak Diusulkan USD40 per barel

\Asumsi Harga Minyak Diusulkan USD40 per barel   \RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Badan Anggaran (Banggar) kembali menggelar rapat kerja dengan pemerintah terkait dengan pendapatan, defisit, dan pembiayaan pemerintah dalam asumsi dasar Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2016.

Kali ini yang jadi bahasan ialah asumsi harga minyak dunia atau Indonesia Crude Price/ICP. Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara menuturkan, pemerintah mengusulkan asumsi ICP dalam postur APBNP 2016 menjadi USD40 per barel.

Bila dilihat rata-rata sampai akhir Mei 2016 realisasi ICP mencapai USD34,5 per barel. Harga ini memang masih di bawah asumsi ICP dalam APBN 2016 sebesar USD50 per barel namun diprediksi realisasi ICP ke depan akan semakin meningkat.

“Ada kecenderungan ICP akan meningkat ke depannya namun biasanya Agustus, September, Oktober ada penurunan sedikit, tapi sebelum musim dingin akan naik lagi,”ujar Suail di ruang rapat Banggar DPR RI, Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Suahasil menambahkan, kenaikan harga minyak akan terjadi Oktober-Desember hingga USD54 per barel, Namun, bila di rata-ratakan asumsi USD54 per barel terlalu tinggi dan malah akan berisiko terhadap penerimaan negara.

“Jadi kami memperkirakan asumsi ICP yang realistis USD40 per barel rata-rata 2016. Karena perkiraan kami kalau rata-rata USD45 per barel untuk rata-rata per bulan terlalu tinggi,”tuturnya.

Sekedar informasi, usul pemerintah soal ICP dalam asumsi APBNP 2016 sebesar USD40 per barel berbeda dengan usul dari Komisi VII DPR RI. Komisi VII DPR RI mengusulkan ICP dalam postur APBNP 2016 sebesar USD45 per barel. Hal ini sudah sesuai dengan perhitungan ICP lifting ditetapkan 820 ribu bph (barel per hari), dan lifting gas bumi 1,250 juta BOEPD (barel oil ekuivalen per day).

Sumber : http://economy.okezone.com