Arus Modal Asing Lambungkan IHSG

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO – Arus dana asing (capital inflow) dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi menjadi sentimen positif bagi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat (24/3), sehingga IHSG diramalkan melanjutkan tren penguatannya (bullish).

David Sutyanto, Kepala riset First Asia Capital menyatakan, bursa saham Wall Street tadi malam mengalami penurunan tipis karena kongres AS menunda penghitungan suara atas Undang-Undang (UU) perlindungan kesehatan yang menggantikan Obamacare.

Dow Jones melemah 0,02 persen ke level 20.656,58, S&P500 melemah 0,11 persen ke level 2.345,96, dan Nasdaq terkoreksi 0,07 persen di level 5.817,69.

“Penundaan ini membuat pasar cenderung berhati-hati dan mengambil sikap menunda,” terang David dalam risetnya, dikutip Jumat (24/3).

Berbeda dengan bursa saham Wall Street, IHSG kemarin mampu menguat dan kembali menembus rekor terbarunya ke level 5.563, atau menguat 29,66 poin (0,54 persen). Menurut David, penguatan IHSG terutama ditopang oleh arus dana asing yang masuk.

“Sentimen musim dividen menjadi pemicu aksi beli pemodal. Pembelian terutama menyasar sejumlah saham-saham perbankan yang berkapitalisasi besar,” sambung David.

Sentimen positif tersebut, jelas David, masih akan mengerek laju IHSG akhir pekan ini. Selain itu, aksi korporasi emiten dan potensi pemberian rating layak investasi oleh S&P juga menjadi vitamin tambahan untuk IHSG.

“IHSG diperkirakan berpeluang menyentuh level 5.600 dengan support di level 5.530,” ujar David.

Sependapat dengan David, analis senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menuturkan, IHSG dapat bertahan di zona positif meski kondisi bursa saham global dan harga minyak dunia sedang tertekan.

Rupanya, beberapa sentimen positif berupa peluang pemberian rating dari S&P direspons positif oleh pasar sehingga IHSG tetap bertahan di teritori positif pada perdagangan kemarin.

“Terlihat IHSG akan naik dan dapat bertahan dalam penguatannya meski pergerakan indeks global sedang negatif,” kata Reza.

Hari ini, ia memprediksi IHSG bergerak dalam rentang support 5.513-5.538 dan resisten 5.601-5.582.

Sri Mulyani Baca Sinyal Ekonomi Tumbuh 5,3 Persen Tahun Ini

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melihat potensi pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa menembus 5,3 persen atau lebih tinggi dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 di angka 5,1 persen.

“Kita masih melihat momentum pertumbuhan ekonomi di atas 5,1 persen yakni 5,2 persen bahkan 5,3 persen, dengan catatan eksternalnya tidak negatif lagi. Asalkan ekspor nol saja, atau mendekati dekati 0,5 persen saja growth-nya. Jangan negatif,” tutur Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Gedung DPR, Kamis (23/3).

Keyakinan mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini berdasar pada kinerja sumber pertumbuhan ekonomi domestik yang masih positif, dalam hal ini konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah. Sri Mulyani mengungkapkan konsumsi rumah tangga tahun ini masih bisa tumbuh sekitar 5 persen.

“Kalau konsumsi tumbuh terlalu tinggi pun juga akan ada overheating,” jelasnya.

Dari sisi investasi, pertumbuhannya tahun in diharapkan bisa mencapai 6 persen. Hal itu diupayakan pemerintah dengan cara mempermudah investasi di Indonesia.

Selanjutnya, dari sisi belanja pemerintah, Sri Mulyani berharap penyerapannya akan lebih baik lagi tahun ini. Tahun lalu, konsumsi pemerintah tumbuh negatif 0,1 persen.

Sementara, kinerja sektor perdagangan internasional Indonesia bergantung pada perkembangan perekonomian global.

“Kalau growth ekonomi dunia sekitar 3,2 persen, tidak mungkin pertumbuhan ekspornya tiba-tiba melonjak sampai 15 persen untuk Indonesia,” ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor Indonesia pada tahun 2014 masih bisa tumbuh 1,1 persen. Kemudian, tahun 2015 pertumbuhan ekspor Indonesia melorot menjadi minus 2,1 persen, dan 2016 minus 1,7 persen.

Untungnya, impor yang anjlok lebih dalam membuat neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus. Pada tahun 2014, pertumbuhan impor bisa mencapai 2,1 persen. Setelah itu, pada tahun 2015 pertumbuhan impor anjlok menjadi minus 6,4 persen dan tahun lalu minus 2,3 persen.

Kemarin, Bank Dunia meramal tahun ini ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,2 persen. Prediksi itu lebih rendah dari prediksi yang dibuat pada Januari 2017 yaitu sebesar 5,3 persen.

Sumber : cnnindonesia.com