Apa Itu Defisit?

2756927385RIFAN FINANCINDO – Istilah defisit pasti kerap Anda temukan sehari-hari, baik melalui televisi, buku, koran, atau bahkan dalam percakapan sehari-hari. Defisit kerap dikaitkan dengan kondisi keuangan negara, atau kondisi keuangan sebuah lembaga, bahkan seorang individu.

Sebenarnya, apa itu defisit?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), defisit adalah kekurangan (dalam anggaran belanja).

Sementara itu, pengertian defisit mengutip Investopedia berarti kondisi keuangan di mana ketika belanja melebihi pendapatan, impor melampaui ekpsor, atau beban melebihi aset.

Sehingga, bisa dikatakan, defisit adalah sinonim dari rugi, serta lawan kata dari surplus.

Defisit bisa terjadi ketika pemerintah, perusahaan, atau seseorang melakukan belanja lebih dari kemampuan yang ia miliki.

Kondisi defisit perlu segera diatasi. Sebab, defisit adalah kondisi yang bisa menghambat pertumbuhan suatu bisnis, hingga perkembangan pembangunan sebuah negara.

Bila dikaitkan dengan kondisi keuangan personal, defisit bisa menciptakan utang yang kian menumpuk bila tidak segera dilakukan pembayaran.

Defisit kian besar, artinya jumlah utang kian bertambah.

Selain itu, defisit yang kian meningkat juga akan mempengaruhi skor kredit Anda. Pihak pemberi pinjaman akan khawatir terhadap kemampuan Anda untuk membayar kewajiban atau utang Anda.

Memahami Pengertian Defisit

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, defisit akan mengurangi surplus atau menambah beban utang.

Sehingga, banyak yang memercayai defisit tidak menguntungkan untuk jangka panjang.

Di dalam kondisi ekonomi sebuah negara, terdapat dua jenis defisit yang terjadi, yakni defisit anggaran dan defisit perdagangan.

Di sisi lain, ekonom ternama Inggris, John Maynard Keynes menyatakan, defisit fiskal memungkinan pemeirntah untuk membeli barang dan jasa yang bisa membantu merangsang perekonomian sebuah negara.

Defisit dinilai bisa menjadi alat untuk membawa negara keluar dari resesi.

Para pendukung defisit perdagangan percaya, defisit memungkinan negara untuk membeli lebih banyak barnag dari yang mereka produksi, setidaknya dalam periode waktu tertentu.

Selain itu, defisit juga dipercaya bisa memacu industri domestik agar lebih kompetitif di pasar global.

Namun demikian, penentang teori defisit menilai, alih-alih memacu perekonomian di dalam negeri, defisit justru memperkaya negara lain, serta menekan kondisi ekonomi domestik.

Juga, banyak yang berpendapat bahwa pemerintah tidak boleh mengalami defisit fiskal secara teratur karena ongkos membayar utang akan lebih mahal.

Jenis Defisit Pemerintah

Terdapat dua jenis defisit utama yang bisa dialami sebuah negara. Dua jensi defisit pemerintah tersebut yakni defisit anggaran dan defisit perdagangan.

Pengertian dari masing-masing defisit tersebut adalah sebagai berikut:

Defisit Anggaran

Defisit anggaran terjadi ketika pemerintah melakukan belanja lebih besar ketimbang pendapatan yang diterima, salah satunya dari pajak, dalam peruide waktu tertentu.

Di Indonesia, laporan anggaran pemerintah disebut dengan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Pengertian lebih lanjut mengenai APBN dapat dibaca di link berikut.

Defisit Perdagangan

Defisit perdagangan terjadi ketika nilai impor suatu negara lebih besar dari ekspornya.

Dua jenis utama defisit yang dapat dialami suatu negara adalah defisit anggaran dan defisit perdagangan.

Misalnya, jika suatu negara mengimpor barang senilai 4 miliar dollar AS tetapi hanya mengekspor senilai 2 miliar dollar AS, maka negara tersebut mengalami defisit perdagangan sebesar dua miliar dollar AS untuk tahun itu.

Akibatnya, lebih banyak uang yang keluar dari negara tersebut daripada yang masuk, yang dapat menyebabkan penurunan nilai mata uangnya serta pengurangan lapangan kerja.

Sumber : kompas