Apa Ancaman Terbesar Market Global?

saham ASPT RIFAN FINANCINDO – Pelaksanaan pemilu Presiden Amerika Serikat (AS) tinggal menghitung hari. Sejumlah pengamat pasar menilai, ajang ini dapat memunculkan guncangan baru bagi market global. Padahal, pergerakan market saat ini tengah dibayangi oleh kabar pertemuan bulanan The Federal Reserve dan pengumuman data tenaga kerja AS bulanan.

Pada Rabu (2/11), The Federal Open Market Committee diramalkan akan mengeluarkan sinyal bahwa pihaknya sudah semakin dekat dengan kebijakan untuk mengerek suku bunga AS. Tentunya dengan catatan, perekonomian dan kondisi finansial AS berjalan sesuai harapan.

The Fed juga diprediksi akan mempertegas apa yang akan mereka lakukan pada pertemuan bulan berikutnya di Desember.

Selain itu, data tenaga kerja AS yang dijadwalkan akan dikeluarkan Jumat (4/11) mendatang juga berpengaruh besar terhadap market. Konsensus Thomson Reuters memprediksi, ketersediaan lapangan kerja baru di AS sepanjang Oktober mencapai 175.000 orang. Sementara, angka pengangguran akan berada di level 4,9%.

Puluhan emiten juga akan merilis kinerja mereka. Beberapa di antaranya yakni Facebook, BP, dan Pfizer.

Di luar hal tersebut, pasar juga berpotensi mengalami risiko besar seiring masuknya minggu terakhir kampanye Pemilu AS. Sekadar mengingatkan, warga AS akan memilih pemimpin pada 8 November mendatang.

Kondisi saat ini, market sepertinya cukup senang dengan adanya hasil polling sementara yang menunjukkan kandidat presiden dari Demokrat, Hillary Clinton, sepertinya akan melenggang ke Gedung Putih. Sedangkan partai Republik masih akan menguasai Kongres.

Hal ini akan membuat situasi status quo di mana segala keputusan bisa berakhir dengan kebuntuan alias gridlock. Wall Street menilai, calon presiden Donald Trump sangat tidak bisa diprediksi.

Pada akhir pekan lalu, Jumat (28/10), langkah Federal Bureau of Investigation (FBI) menginvestigasi bukti baru terkait email yang melibatkan Clinton mengguncang pasar. Hasilnya, market ditutup di zona merah.

Email-email tersebut ditemukan saat FBI melakukan pemeriksaan terhadap mantan anggota partai Republik Anthony Weiner, suami dari asisten senior Clinton. Weiner sendiri diperiksa atas tuduhan mengirim pesan seksual secara eksplisit kepada sejumlah orang.

“Saat ini, pasar sudah merasa nyaman dengan rencana peningkatan suku bunga AS pada Desember. Namun, menjelang pemilu, situasi market bisa berpotensi volatil seperti gangguan saat hasil voting Brexit,” jelas Scott Redler, partner T3Live.com.

Art Cashin, director of floor operations UBS, mengatakan jika Clinton mengalahkan pesaingnya pada pemilu nanti, investigasi FBI akan terus menghantuinya. “Ini artinya, sebelum inagurasi jika Republik berkuasa di Kongres, maka akan dilakukan investigasi yang bisa berlangsung selama empat tahun,” jelas Cashin.

Sementara secara teknis, menurut Redler, pasar tampak rentan kendati belum ditambahkan faktor tidak pastinya hasil pemilu.

Catatan saja, indeks S&P 500 ditutup di level 2.126 pada akhir pekan lalu. Sepanjang minggu kemarin, indeks acuan AS itu tertekan 0,7%.

( investasi.kontan.co.id )