Antivirus Eukaliptus yang Jadi Polemik

kalung-antivirus-dari_200706231657-627RIFAN FINANCINDO – Temuan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, terkait spesies eukaliptus yang diklaim manjur membunuh virus corona menjadi polemik di media sosial. Banyak masyarakat yang meragukan, hingga menjadikan temuan sebagai gurauan. Benarkah demikian?

Polemik itu bermula ketika Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyatakan bahwa antivirus korona dalam bentuk kalung akan mulai diproduksi karena telah melalui hasil penelitian laboratorium. “Dari 700 jenis, satu (jenis) yang bisa mematikan virus korona, ini hasil laboratorium kita dan kita yakin,” kata Syahrul di Jakarta, akhir pekan lalu. Mentan dengan tegas mengatakan ‘bisa mematikan’.

Penelitian eukaliptus sebagai terapi mengatasi korona dilakukan sejak Maret lalu ketika Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan pandemi Covid-19. Balitbangtan Kementan melalui tiga balai pembatu teknisnya pun ikut melakukan penelitian.

Tapi memang harus diingat, bahwa sampai saat ini belum ada satu pun obat khusus untuk menyembuhkan Covid-19. Penyembuhan di berbagai negara masih menggunakan obat lain, misalnya avigan yang merupakan obat flu yang dikabarkan manjur untuk mengobati penderita Covid-19 berusia lanjut. Begitu pun vaksin.

Perkembangan penelitian vaksin sejauh ini masih pada tahap uji klinis pasien. Cina mengabarkan kemungkinan besar bisa menghasilkan vaksin Covid-19 sebelum akhir tahun. Negara lain masih melihat setahun atau dua tahun lagi untuk memproduksi vaksin.
Bagaimana Indonesia? Terkait terapi eukaliptus ini penelitian dan uji coba dilakukan lewat tiga balai di bawahnya, Balai Besar Penelitian Veteriner, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, serta Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. Riset bersama itu menguji temulawak, jahe, dan jambu biji. Namun, nyatanya efeknya tak bisa membunuh virus secara langsung. Alias hanya meringankan penyakit.

Penelitian kemudian dilakukan terhadap minyak atsiri yang berasal dari tanaman eukaliptus. Minyak itu memiliki senyawa 1,8 cineole yang juga disebut eucalyptol. Senyawa itu diklaim memiliki aktivitas antivirus, anti inflamasi, serta anti mikroba. Formulasi itu pun disebut bisa membunuh avian influenza H5N1 hingga virus korona dengan efektivitas 80-100 persen.

Kepala Balitbangtan Kementan, Fadjry Djufry, menuturkan, hasil temuan dikembangkan dalam dalam bentuk roll on, inhaler, balsam, minyak aromaterapi hingga kalung dengan teknologi nano. Ia menekankan, seluruh produk itu tentunya bukan obat minum, namun layaknya obat herbal yang selama ini dikenal dan biasa dipakai masyarakat.

Sekitar 10 hari setelah diluncurkan, Kementan sempat resmi mematenkan temuan bahwa eukaliptus bisa membunuh virus korona. Kementan juga mematenkan produk roll on, inhaler, dan kalung eukaliptus sekaligus menggandeng PT Eagle Indo Pharma sebagai mitra lisensi Balitbangtan Kementan sebagai produsen produk-produk itu.

Fadjry menjelaskan, Balitbangtan tentunya akan mendapatkan imbalan royalti atas penjualan produk yang dikembangkan Cap Lang karena temuan telah dipatenkan. Namun masalahnya, ketika ditanya soal uji klinis, Fadjry mengakui tiga jenis produk temuannya belum diuji. Sebab membutuhkan proses dan waktu yang panjang.

Ia berdalih uji klinis bisa nanti dilakukan lantaran hanya berupa obat herbal. “Ini bukan vaksin, bukan juga obat minum. Eukaliptus juga sudah dipakai turun temurun. Hanya yang kita temukan ini bisa digunakan sebagai antivirus,” kata dia.

Sementara dalam konferensi pers yang digelar di Bogor, Senin (6/7), Fajdry mengatakan, ketiga produk tersebut telah teregistrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai obat jamu herbal, bukan antivirus. Belum bisa diklaim antivirus lantaran belum dilakukan uji klinis, termasuk uji coba kepada pasien positif Covid-19.

Selain sudah teregistrasi, dua produk model roll on dan inhaler sudah mendapatkan izin edar dari BPOM dan tengah diproduksi massal oleh Cap Lang. Rencananya, produk siap dipasarkan pada akhir Juli ini. Sementara model kalung masih menunggu terbitnya izin edar.

Namun, ia memperkirakan dalam waktu dekat izin bakal keluar sehingga produksi dan pemasaran bisa dimulai Agustus mendatang. “Obat ini levelnya masih jamu yang membantu melegakan pernafasan. Ini kita sadari karena perlu uji klinis sehingga tidak boleh ada klaim disitu,” katanya.

Pihaknya bakal menggandeng para pakar Universitas Indonesia dan Universitas Hasanuddin untuk memulai uji klinis. Namun, hal lain yang perlu dicatat, prototipe antivirus itu tidak ditujukan spesifik kepada Covid-19.

Fadjry menekankan, penelitian dilakukan terhadap model virus korona secara umum. Yakni beta corona dan gamma corona. Adapun Covid-19, masuk ke dalam bagian dari beta corona. “Saya tidak mengklaim Covid-19 karena kita tidak menguji kepada Covid-19. Kita hanya menguji kepada corona model,” kata dia berdalih.

Testimoni pasien

Meski secara resmi baru menjadi prototipe, ia menyampaikan, telah mengujicobakan kepada 16 pasien positif Covid-19. Kementan, kata dia, merekam testimoni para pasien tetapi tidak melakukan pengujian terhadap kondisi ksehatan.

“Setelah rutin menghirup aroma roll on, saluran pernafasan saya menjadi lebih lega, segar. Semoga produk tersebut bisa bermanfaat khususnya untuk pasien Covid-19 juga untuk masyarakat umum sebagai antisipasi pencegahan terhadap Covid-19,” kata pasien nomor VI, seperti tertulis dalam keterangan resmi Kementan.

Pasien nomor VI menyatakan, setelah rutin menghirup aroma roll on, saluran pernafasan menjadi lebih nyaman. “Kalaupun masih menjadi perdebatan, dianggap tidak ada manfaat antivirus, ya paling tidak bisa melegakan pernafasan dan mengurangi gejala Covid-19,” kata Fadjry.

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Prof Suwijiyo Pramono mengatakan, eukaliptus mengandung zat-zat aktif bermanfaat bagi tubuh. Ada minyak atsiri yang miliki senyawa 1,8 sineol bersifat antibakteri, antivirus dan ekspketoran pengencer dahak.

Pakar herbal ini mengungkapkan, memang pernah ada penelitian eukaliptus terhadap virus influenza dan virus korona, bukan virus corona SARS-COV-2. Hasilnya, menunjukkan mampu untuk membunuh virus flu dan korona (varian lama).

“Virus corona SARS-COV-2 ini kan baru, dalam uji Kementan kemarin menggunakan virus itu atau bukan? Misalpun sudah, kembali lagi kalau uji baru di tahap invitro, baru sebatas itu,” kata Pramono lewat rilis yang diterima Republika, Senin (6/7).

Ia berpendapat, penggunaan kalung eucalyptus ini baru mampu membunuh virus yang berada di luar tubuh. Artinya, belum dengan Covid-19 yang sudah berada dalam tubuh karena dengan kalung zat aktif eucalyptus yang terhirup relatif kecil.

Untuk itu, walaupun bisa mematikan virus, tapi masih belum secara signifikan. Pakar yang merupakan pula tenaga ahli Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ini menekankan, untuk membuktikan kemampuan kalung masih harus dilakukan uji klinis.

Selama ini, lanjut Pramono, eukaliptus dipakai secara topikal atau inhalasi, tapi bukan untuk digunakan sebagai obat dalam. Pemakaian eukaliptus umumnya dioles atau dihirup seperti di produk minyak kayu putih, balsem, roll on dan lain-lain.

Menurut Pramono, eukaliptus belum bisa dianggap sebagai obat untuk anti virus korona penyebab Covid-19. Sebab, masih perlu pembuktian dengan proses panjang hingga pengujian klinis atau pada manusia. Selain itu, harus mengantongi izin BPOM.

“Kalau disebut sebagai obat anti virus Covid-19 belum bisa. Apalagi, kalau digunakan per oral (memasukkan obat melalui mulut) tidak direkomendasikan karena jika dosis penggunaan tidak tepat akan berbahaya,” ujar Pramono.

Ia menjelaskan, batas aman penggunaan eukaliptus per oral berkisar antara 0,3-0,6 mililiter. Sedangkan, penggunaan berlebih akan menyebabkan iritasi dalam lambung dan meracuni susunan syaraf pusat yang bisa berakibat kematian.

 

Sumber : republika